PENGUKURAN KADAR AIR PADA IKAN SEGAR DAN PRODUK PENGOLAHAN
PERIKANAN
Riska Ayu Nuryahya
4443130741
JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS
SULTAN AGENG TIRTAYASA
2015
Abstrak
Kadar air
merupakan jumlah air yang terkandung dalam bahan pangan. Kadar air memiliki
karakteristik yang sangat penting pada bahan pangan karena dapat mempengaruhi
penampakan, tekstur, dan cita rasa pada bahan pangan. Pada praktikum yang
dilakukan tanggal 02 April 2015, telah membahas tentang cara mengukur kadar air
pada ikan segar dan produk olahan ikan, dengan tujuan praktikan mampu mengetahui,
menghitung kadar air komoditas hasil perikanan dan untuk mengetahui perbedaan
kadar air ikan segar dan produk olahan ikan. Pada praktikum ini menggunakan
metode oven (thermogravimetri). Sampel dibiarkan dalam alat pengering (oven)
pada suhu 70-100oC hingga bahan mencapai berat yang konstan. Kelebihan
metode ini adalah prosedurnya yang sederhana, data yang diperoleh cukup baik
dan akurat serta dapat digunakan untuk jumlah sampel yang banyak, metode ini
juga memiliki kekurangannya yaitu dekomposisi selama pengeringan, penguapan
komponen volatil. Ada beberapa bahan baku yang digunakan yaitu berupa sampel ikan
kembung segar, sampel ikan bandeng segar, sampel ikan bawal merah segar, sampel
bakso ikan, sampel otak-otak dan sampel cumi kering. Kandungan air dalam bahan
pangan ikut menentukan kesegaran dan daya awet bahan pangan tersebut. Semakin
tinggi kadar air, maka bakteri, kapang dan khamir semakin mudah untuk tumbuh
dan berkembang biak sehingga akan terjadi perubahan pada bahan pangan yang akan
mempercepat pembusukan. Proses pembusukan pada ikan segar disebabkan oleh enzim
dan mikroba baik dari dalam maupun luar tubuh ikan. Kadar air ikan segar yang
tinggi dapat mempercepat proses perkembangbiakan mikroorganisme pembusuk yang
terdapat di dalamnya. Komposisi ikan segar per 100 gram bahan ialah kadar air
76%, protein 17%, lemak 4,5% dan mineral atau vitamin antara 2,42- 4,5%.
Kata kunci : Kadar air, Ikan
segar, Produk olahan ikan
PENDAHULUAN
Ilmu
pengetahuan dan teknologi dibidang pangan kini tengah cukup maju, berbagai
hasil perikanan terus diupayakan dan dikembangkan agar dapat dimanfaatkan
secara optimal bagi kepentingan manusia. Pangan tersebut salah satunya adalah
hasil tangkapan yaitu ikan segar dan olahan dari ikan tersebut. Sangat penting
untuk mengetahui jumlah kadar air pada suatu bahan pangan agar diketahui cara
penangannya dengan tepat.
Kadar air
merupakan jumlah air yang terkandung dalam bahan pangan. Kadar air memiliki
karakteristik yang sangat penting pada bahan pangan karena dapat mempengaruhi
penampakan, tekstur, dan cita rasa pada bahan pangan. Kandungan air dalam bahan
pangan ikut menentukan kesegaran dan daya awet bahan pangan tersebut. Semakin
tinggi kadar air, maka bakteri, kapang dan khamir semakin mudah untuk tumbuh
dan berkembang biak sehingga akan terjadi perubahan pada bahan pangan yang akan
mempercepat pembusukan.
Proses
pembusukan pada ikan segar disebabkan oleh enzim dan mikroba baik dari dalam
maupun luar tubuh ikan. Kadar air ikan segar yang tinggi dapat mempercepat
proses perkembangbiakan mikroorganisme pembusuk yang terdapat di dalamnya.
Komposisi ikan segar per 100 gram bahan ialah kadar air 76%, protein 17%, lemak
4,5% dan mineral atau vitamin antara 2,42- 4,5%.
Pada praktikum
kali ini dilakukan pengujian dan pengukuran kadar air pada ikan segar dan
produk olahan ikan, dengan tujuan dapat mengetahui kadar air komoditas hasil
perikanan dan untuk mengetahui perbedaan kadar air ikan segar dan produk olahan
ikan. Daya tahan pada ikan segar tidaklah lama sehingga sering menjadi kendala
dalam usaha pemasaran hasil bahkan menimbulkan kerugian besar pada saat
produksi ikan melimpah. Berbagai macam proses pengolahan pasca panen ikan
dilakukan guna meminimalkan kendala-kendala tersebut. Proses pengolahan ikan
salah satunya bertujuan menghambat proses pembusukan ikan dengan cara
mengurangi kadar air. Hal tersebut mengakibatkan produk olahan ikan akan
memiliki daya tahan lebih lama dibandingkan daging ikan segar.
TINJAUAN PUSTAKA
Kadar air
adalah persentase kandungan air suatu bahan yang dapat dinyatakan berdasarkan
berat basah (wet basis) atau berdasarkan berat kering (dry basis).
Kadar air berat basah mempunyai batas maksimum teoritis sebesar 100%, sedangkan
kadar air berdasarkan berat kering dapat lebih dari 100%.
Kadar air
memiliki peranan penting, kecuali pada temperatur maka aktivitas air mempunyai
tempat tersendiri dalam proses pembusukan. Kerusakan bahan makanan pada umumnya
merupakan proses mikrobiologis, kimiawi, enzimatik atau kombinasi antara
ketiganya. Berlangsungnya proses tersebut memerlukan air dimana kini telah
diketahui bahwa hanya air bebas yang dapat membantu berlangsungnya proses
tersebut.
Teknologi
pengawetan bahan pangan pada dasarnya adalah berada dalam dua alternatif yaitu
yang pertama menghambat enzim-enzim dan aktivitas mikroba dengan menurunkan
suhunya hingga dibawah 0oC dan yang kedua adalah menurunkan
kandungan air bahan pangan sehingga tidak memberi kesempatan untuk tumbuhnya
mikroba dengan pengeringan kandungan air yang ada di dalam maupun di permukaan
bahan pangan, hingga mencapai kondisi tertentu. Salah satu metode yang
digunakan untuk menetapkan kadar air pada suatu bahan adalah dengan menggunakan
metode metode oven yaitu metode yang dapat digunakan untuk seluruh produk
makanan, kecuali produk tersebut mengandung komponen-komponen yang mudah
menguap atau jika produk tersebut mengalami dekomposisi pada pemanasan 100oC
-102oC sampai diperoleh berat yang tetap.
Berdasarkan
kadar air (bobot basah dan bobot kering) dan bahan basah maupun bahan setelah
dikeringkan, dapat ditentukan rasio pengeringan (drying ratio) dari
bahan yang dikeringkan tersebut. Salah satu metode penentuan kadar air yang
sederhana dan banyak digunakan untuk produk pangan adalah metode pengeringan
atau metode oven (thermogravimetri). Pada metode ini sampel dibiarkan
dalam alat pengering (oven) pada suhu 70-100oC hingga bahan mencapai
berat yang konstan. Kelebihan metode ini adalah prosedurnya yang sederhana,
data yang diperoleh cukup baik dan akurat serta dapat digunakan untuk jumlah
sampel yang banyak, metode ini juga memiliki kekurangannya yaitu dekomposisi
selama pengeringan, penguapan komponen volatil. Pengeringan dengan cara oven
adalah suatu metode untuk mengeluarkan atau menghilangakan sebagian air dari
suatu bahan dengan cara menguapkan air tersebut dengan menggunakan energi
panas. Biasanya kandungan air bahan tersebut dikurangi sampai suatu batas agar
mikroba tidak dapat tumbuh lagi didalamnya.
Adapun metode
lainnya yaitu metode oven vakum, metode ini digunakan untuk bahan yang mengandung
komponen-komponen mudah rusak pada suhu tinggi (bahan yang banyak mengandung
gula). Kelebihannya diantara lain seperti pemanasan pada suhu rendah sehingga
mencegah dekomposisi sampel, pemanasannya seragam untuk mencegah case
hardening, dan kekurangannya seperti efisiensi pengeringan rendah, tidak dapat
menganalisis sampel dalam jumlah banyak.
METODOLOGI
Praktikum
tentang pengukuran kadar air pada ikan segar dan produk pengolahan perikanan
ini dilakukan di laboratorium TPHP Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian,
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Pada tanggal 02 April 2015 pukul
15.30-17.30 WIB.
Alat yang
digunakan pada praktikum kali ini yaitu alat tulis, oven, desikator, cawan
petri, penjepit, timbangan elektrik dan pisau. Sedangkan untuk bahan yang
digunakan ada beberapa sampel yang dibawa oleh masing-masing kelompok yaitu
ikan kembung, ikan bandeng, ikan bawal merah, bakso ikan, otak-otak dan cumi
kering.
Untuk prosedur
kerjanya melalui beberapa tahap, yaitu siapkan cawan yang sudah
disterilisasikan dan tidak boleh terkena sentuhan tangan, lalu timbang berat
cawan dan sampel yang sudah disediakan dan dipotong kecil-kecil ± 5 gram dengan
timbangan elektrik, setelah itu catat berat awal. Kemudian cawan dengan sampel
tersebut dikeringkan dalam oven selama 24 jam dengan suhu 100oC,
setelah dikeringkan angkat dengan penjepit dan masukkan cawan ke dalam
desikator, lalu ditimbang hasil akhir, catat dan hitung hasil akhirnya,
perlakuan ini dilakukan agar mendapatkan nilai berat konstan.
Sterilisasikan
cawan
Timbang berat
cawan dan sampel
Keringkan dalam
oven selama 24 jam dengan suhu 100oC
Masukan cawan
ke dalam desikator
Timbang berat cawan
dan sampel
hitung hasilnya
Gambar 1. Diagram alir
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1. Hasil data kandungan kadar air kelas 4 A
No
|
Kelompok
|
Bahan
|
Berat Awal (g)
|
Berat Akhir (g)
|
Kadar Air
|
1.
|
1
|
Ikan Kembung
|
27
|
23
|
14,81 %
|
2.
|
2
|
Ikan Bandeng
|
38
|
35
|
7,89 %
|
3.
|
3
|
Ikan Bawal Merah
|
29
|
25
|
13,7 %
|
4.
|
4
|
Bakso Ikan Payus
|
34
|
33
|
2,9 %
|
5.
|
5
|
Otak-Otak Ikan
|
28
|
26
|
7,14 %
|
6.
|
6
|
Cumi Kering
|
27
|
25
|
7,4 %
|
Setiap
kelompok memiliki nilai berat awal, nilai berat akhir dan nilai kadar air yang
berbeda-beda. Hal ini terjadi karena pada berat awal cawan yang telah
disediakan sudah terlalu banyak tersentuh dengan tangan sehingga mempengaruhi
nilai berat pada cawan dan berat kadar air pada sampel juga mempengaruhi. Berat
awal lebih besar dibandingkan dengan berat akhir, karena pada berat awal sampel
untuk masing-masing kelompok masih dalam keadaan segar sehingga masih
terkandung kadar air yang cukup banyak. Pada berat akhir nilai sampel tersebut
sudah lebih berkurang dari berat awal, hal ini terjadi karena selama proses
pengeringan di dalam oven kadar air pada sampel sudah terkurangi. Berdasarkan
hasil yang telah diperoleh, sampel kelompok satu yaitu ikan kembung memiliki
kadar air yang paling tinggi dari sampel kelompok lainnya sebesar 14,81 %
sedangkan untuk sampel yang memiliki tingkat kadar air rendah yaitu sampel bakso
ikan payus pada kelompok 4 sebesar 2,9 %.
Tabel 2. Hasil data kandungan kadar
air kelas 4 B
No
|
Kelompok
|
Bahan
|
Berat Awal (g)
|
Berat Akhir (g)
|
Kadar Air
|
1.
|
1
|
Ikan Tongkol
|
28
|
25
|
10,7 %
|
2.
|
2
|
Ikan Payus
|
27
|
22
|
18,5 %
|
3.
|
3
|
Ikan Patin
|
31
|
27
|
12,9 %
|
4.
|
4
|
Ikan Asin Teri Nasi
|
40
|
38
|
5 %
|
5.
|
5
|
Bakso Ikan
|
38
|
26
|
31,58 %
|
6.
|
6
|
Empek-Empek
|
40
|
23
|
42,5 %
|
Sama seperti hasil kadar air pada
kelas 4 A, kelas 4 B juga memiliki nilai berat awal, nilai berat akhir dan
nilai kadar air yang berbeda-beda tergantung pada jenis bahan yang diteliti.
Berat awal juga memiliki nilai yang lebih tinggi, hal ini dapat dipengruhi oleh
dua faktor yaitu kontaminasi pada cawan petri dengan tangan dan berat kadar air
pada sampel. Berat awal pada sampel ikan asin teri dan empek-empek memiliki
nilai yang paling tinggi, tetapi pada sampel ikan asin teri nasi memiliki nilai
kadar air yang sangat kecil yaitu hanya sebesar 5 %, sangat berbanding terbalik
dengan sampel empek-empek yang memiliki nilai kadar air lebih tinggi
dibandingkan sampel lainnya yaitu sebesar 42,5 %.
KESIMPULAN DAN
SARAN
Berdaarkan data yang telah diperoleh
pada tabel hasil, dapat ditarik kesimpulan bahwa kadar air memiliki peranan
penting pada ikan segar dan produk olahannya, karena kadar air pada ikan segar
yang tinggi dapat mempercepat proses perkembangbiakan mikroorganisme pembusuk
yang terdapat di dalamnya sehingga mudah membusuk. Kadar air yang terkandung
pada ikan segar dan produk olahan ikan sangat berbeda, karena ikan segar masih
memiliki kandungan air yang lebih tinggi dibandingkan dengan produk olahan ikan
yang sudah terkurangi kadar airnya. Produk olahan ikan sudah melakukan beberapa
proses pengeringan, sehingga dapat disimpan dan tidak mudah membusuk atau
memiliki daya tahan yang lebih lama dibandingkan dengan ikan segar.
Pada saat berlangsungnya praktikum,
diharapkan asleb dapat memberikan materi atau penjelasan yang lebih detail agar
praktikan bisa lebih paham dan mengerti tujuan dari praktikum tersebut, dan
juga diharapkan asleb dapat lebih sabar membimbing praktikannya, memberikan
penjelasan tentang format laporan yang masih belum sempurna supaya pembuatan
laporan selanjutnya dapat lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Apriyantono,
Anton, dkk. 1989. Analisis Pangan. Pusbangtepa IPB: Bogor.
Suharto. 1991. Teknologi
Pengawetan Pangan. PT. Rineka Cipta: Yakarta.
Taib, Gunarif. 1988. Operasi Pengeringan Pada Pengolahan Hasil
Pertanian. PT. Mediyatama Sarana Perkasa: Jakarta.
Winarno. 1984. Kimia
Pangan dan Gizi. PT. Gramedia: Jakarta.
ini cara menghitung kadar airnya bagaimana ? tolong bantuanya
BalasHapus