ENZIM
Riska Ayu Nuryahya
4443130741
JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS
SULTAN AGENG TIRTAYASA
2015
Abstrak
Enzim merupakan
protein yang berfungsi sebagai biokatalis dalam sel hidup. Kelebihan enzim
dibandingkan katalis biasa adalah dapat meningkatkan produk beribu kali lebih
tinggi, bekerja pada pH yang relatif netral dan suhu yang relatif rendah, dan
bersifat spesifik dan selektif terhadap subtrat tertentu. Enzim adalah molekul
komples berbasis protein yang dihasilkan oleh sel-sel. Enzim ikut terlibat
dalam berbagai reaksi biokimia. Tiap-tiap enzim yang terdapat dalam tubuh kita
dapat mempengaruhi reaksi kimia tertentu. Enzim berperan sebagai katalis organik,
enzim mempercepat kecepatan reaksi yang terjadi. Jika tidak ada enzim, reaksi
kimia akan menjadi sangat lambat. Berbagai reaksi juga mungkin tidak akan
terjadi jika tidak terdapat enzim yang tepat di dalam tubuh. Praktikum tentang
enzim pada ekstrak buah nanas dilakukan di laboraturium teknologi pengolahan
hasil perikanan (TPHP) Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas
Sultan Ageng Tirtayasa pada tanggal 04 Juni 2015 pukul 15.30-17.30 WIB dengan
tujuan agar praktikan dapat melakukan isolasi dan mengamati aktivitas enzim
blomelin pada ekstrak buah nanas. Setiap enzim memerlukan suhu dan pH (tingkat
keasaman) optimum yang berbeda-beda dan enzim adalah protein, yang dapat
mengalami perubahan bentuk jika suhu dan keasaman berubah. Di luar suhu atau pH
yang sesuai, enzim tidak dapat bekerja secara optimal atau strukturnya akan
mengalami kerusakan. Begitu juga dengan faktor-faktor lainnya harus
diperhatikan karena sangat mempengaruhi kinerja enzim.
Kata kunci : Enzim,
Protein, Reaksi
PENDAHULUAN
Enzim merupakan protein yang berfungsi sebagai biokatalis dalam sel
hidup. Kelebihan enzim dibandingkan katalis biasa adalah dapat meningkatkan
produk beribu kali lebih tinggi, bekerja pada pH yang relatif netral dan suhu
yang relatif rendah, dan bersifat spesifik dan selektif terhadap subtrat
tertentu. Enzim telah banyak digunakan dalam bidang industri pangan, farmasi
dan industri kimia lainnya. Dalam bidang pangan misalnya amilase,
glukosa-isomerase, papain, danbromelin. Sedangkan dalam bidang kesehatan contohnya
amilase, lipase, dan protease.
Kini kira-kira lebih dari 2.000 enzim telah teridentifikasi, yang
masing-masing berfungsi sebagai katalisator reaksi kimia dalam system hidup.
Sintesis enzim terjadi didalam sel dan sebagian nesar enzim dapat diperoleh
dari ekstraksi dari jaringan tanpa merusak fungsinya.
Selain sebagai katalisator, enzim juga merupakan unit fungsional
dari metabolism sel. Enzim bekerja dengan urutan-urutan yang teratur dan
mengkatalisis ratusan reaksi dari reaksi yang sangat sederhan seperti replikasi
kromosom sampai ke reaksi yang sangat rumit, misalnya yang menguraikan molekul
nutrient, menyimpan dan mengubah energy kimiawi. Masing-masing reaksi
dikatalisis oleh sejenis enzim tertentu. Diantara sejumlah enzim tesebut, ada
sekelompok enzim yang disebut enzim pengatur. Enzim dapat mengenali berbagai
isyarat metabolis yang diterima. Melalui aktivitasnya, enzim pengatur
mengkoordinasikan system enzim dengan baik, sehingga menghasilkan hubungan
harmonis diantara sejumlah aktivitas metabolis yang berbeda. Pada keadaan
abnormal atau aktivitas berlebihan suatu enzim dapat menimbulkan penyakit.
Adapun dilakukannya pengujian enzim dari ekstrak buah nanas yaitu
diharapkan agar praktikan dapat melakukan isolasi dan mengamati aktivitas enzim
blomelin pada ekstrak buah nanas.
TINJAUAN PUSTAKA
Buah nanas, nenas, atau ananas (Ananas comosus) adalah
sejenis tumbuhan tropis yang berasal dari Brasil, Bolivia, dan Paraguay
Tumbuhan ini termasuk dalam familia nanas-nanasan (Family Bromeliaceae).
Perawakan (habitus) tumbuhannya rendah, herba (menahun) dengan 30 atau lebih
daun yang panjang, berujung tajam, tersusun dalam bentuk roset mengelilingi
batang yang tebal. Buahnya dalam bahasa Inggris disebut sebagai pineapple
karena bentuknya yang seperti pohon pinus. Nama nanas berasal dari sebutan
orang Tupi untuk buah ini : anana, yang bermakna buah yang sangat baik.
Adapun
klasifikasi dari buah nanas yaitu :
Kingdom : Plantae
(Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta
(Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta
(Menghasilkan biji)
Divisi :
Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas :
Liliopsida (berkeping satu/monokotil)
Sub Kelas :
Commelinidae
Ordo :
Bromeliales
Famili :
Bromeliaceae
Genus : Ananas
Spesies : Ananas comosus Merr
Enzim adalah molekul komples
berbasis protein yang dihasilkan oleh sel-sel. Enzim ikut terlibat dalam
berbagai reaksi biokimia. Tiap-tiap enzim yang terdapat dalam tubuh kita dapat
mempengaruhi reaksi kimia tertentu. Enzim berperan sebagai katalis organik,
enzim mempercepat kecepatan reaksi yang terjadi. Jika tidak ada enzim, reaksi
kimia akan menjadi sangat lambat. Berbagai reaksi juga mungkin tidak akan
terjadi jika tidak terdapat enzim yang tepat di dalam tubuh. Enzim dapat
meningkatkan kecepatan reaksi kimia berkali-kali lipat. Studi telah menemukan
bahwa enzim dapat mempercepat reaksi kimia sampai 10 milyar kali lebih cepat.
Zat kimia yang hadir pada awal proses biokimia disebut sebagai substrat, yang
mengalami perubahan kimia membentuk produk akhir. Konsentrasi substrat atau
enzim dapat berdampak pada aktivitas enzim. Selain itu, kondisi lingkungan
seperti suhu, pH, kehadiran inhibitor, dll turut mempengaruhi aktivitas enzim.
Susu merupakan bahan pangan yang tersusun oleh zat – zat makanan
dengan proporsi yang seimbang seperti air, protein, lemak, hidat arang,
mineral, dan vitamin. Usaha pengolahan susu merupakan penganekaragaman produk
yang mempunyai nilai tambah dan masa simpan yang lebih lama. Pengolahan susu
yang dilakukan dengan teknologi yang sederhana serta dapat menghasilkan produk
yang disukai konsumen perlu dicari dan dikembangkan. Penganekaragaman olahan
susu merupakan hal yang penting, artinya usaha untuk perbaikan gizi masyarakat
terutama bagi masyarakat yang kurang suka dalam mengkonsumsi susu segar. Susu
mengandung protein berupa kasein yang dapat mengalami penggumpalan.
Penggumpalan susu dalam proses pembuatan tahu susu dapat dilakukan dengan
berbagai cara, antara lain dengan asam, enzim proteolitik, dan alkohol serta
dapat dipercepat dengan pemanasan.
Adapun faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim : yang pertama
adalah suhu, semua enzim membutuhkan suhu yang cocok agar dapat bekerja dengan
biak. Laju reaksi biokimia meningkat seiring kenaikan suhu. Hal ini karena
panas meningkatkan energi kinetik dari molekul sehingga menyebabkan jumlah
tabrakan diantara molekul-molekul meningkat. Sedangkan dalam kondisi suhu
rendah, reaksi menjadi lambat karena hanya terdapat sedikit kontak antara
substrat dan enzim. Namun, suhu yang ekstrim juga tidak baik untuk enzim.
Kemudian ada nilai pH, efisiensi suatu enzim sangat dipengaruhi
oleh nilai pH atau derajat keasaman sekitarnya. Ini karena muatan komponen asam
amino enzim berubah bersama dengan perubahan nilai pH. Secara umum, kebanyakan
enzim tetap stabil dan bekerja baik pada kisaran pH 6 dan 8. Tapi, ada beberapa
enzim tertentu yang bekerja dengan baik hanya di lingkungan asam atau basa.
Selanjutnya ada konsentrasi substrat, konsentrasi substrat yang
lebih tinggi berarti lebih banyak jumlah molekul substrat yang terlibat dengan
aktivitas enzim. Sedangkan konsentrasi substrat yang rendah berarti lebih
sedikit jumlah molekul substrat yang dapat melekat pada enzim, menyebabkan
berkurangnya aktivitas enzim.
Konsentrasi enzim, semakin besar konsentrasi enzim maka kecepatan
reaksi akan semakin cepat pula. Konsentrasi enzim berbanding lurus dengan
kecepatan reaksi, tentunya selama masih ada substrat yang perlu diubah menjadi
produk.
Aktivator dan inhibitor, aktivator merupakan molekul yang membantu
enzim agar mudah berikatan dengan substrat. Inhibitor adalah substansi yang
memiliki kecenderungan untuk menghambat aktivitas enzim. Inhibitor enzim
memiliki dua cara berbeda mengganggu fungsi enzim. Berdasarkan caranya,
inhibitor dibagi menjadi 2 kategori : inhibitor kompetitif dan inhibitor
non-kompetitif. Inhibitor kompetitif memiliki struktur yang sama dengan molekul
substrat, inhibitor ini melekat pada sisi aktif enzim sehingga menghalangi
pembentukan ikatan kompleks enzim-substrat. Inhibitor non-kompetitif dapat
melekat pada sisi enzim yang bukan merupakan sisi aktif, dan membentuk kompleks
enzim-inhibitor. Inhibitor ini mengubah bentuk/struktur enzim, sehingga sisi
aktif enzim menjadi tidak berfungsi dan substrat tidak dapat berikatan dengan
enzim tersebut.
METODOLOGI
Praktikum tentang enzim pada ekstrak buah nanas dilakukan di
laboraturium teknologi pengolahan hasil perikanan (TPHP) Jurusan Perikanan,
Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa pada tanggal 04 Juni
2015 pukul 15.30-17.30 WIB.
Alat yang digunakan pada praktikum yaitu berupa tabung reaksi dan
rak tabung reaksi, pipet ukur, wadah, kompor, panci, lap, stopwatch, senter,
alat tulis. Sedangkan untuk bahan menggunakan air susu, air ekstrak buah nanas,
air panas, dan air dingin yang ditambahkan dengan es batu.
Siapkan alat dan bahan, untuk percobaan pertama ambil 6 tabung
reaksi pada rak tabung reaksi. 3 tabung yang telah disediakan diisi oleh air
ekstrak nanas sebanyak 1 ml dan 3 tabung lainnya diisi dengan air susu sebanyak
1 ml, 2 ml dan 3 ml, campurkan kedua bahan tersebut lalu amati perubahan yang
terjadi dengan senter agar proses penggumpalannya dapat terlihat, dan catat
waktu penggumpalan tersebut. Lalu untuk percobaan kedua masukkan 1 ml air susu
ke dalam 3 tabung reaksi dan untuk 3 tabung lainya diisi dengan 1 ml air nanas,
simpan tabung percobaan di suhu ruang, suhu dingin, dan suhu panas selama 5
menit kemudian campurkan 1 ml air nanas ke dalam 1 ml air susu, amati dan catat
waktu perubahan yang terjadi. Dan untuk percobaan yang ketiga, 3 tabung diisi
air susu dan dan 3 tabung lainnya di isi air nanas 1 ml, 2 ml dan 3 ml, tuang
setiap tabung reaksi yang berisi air nanas ke dalam tabung berisi air susu, amati
perubahan yang terjadi dengan senter, dan catat waktu terjadinya perubahan
reaksi atau terjadinya gumpalan pada larutan tersebut.
Siapkan 6 tabung reaksi
3 tabung diisi air nanas 1 ml dan tabung
lainnya diisi susu 1 ml, 2 ml, dan 3 ml
Amati perubahan yang terjadi
Terdapat gumpalan dan catat waktu
perubahannya
Untuk percobaan kedua, masukan 1 ml
susu kedalam 3 tabung reaksi, 3 tabung lainnya masukan 1 ml air nanas
Simpan tabung percobaan di suhu
dingin, suhu ruang dan suhu panas selama 5 menit
Campurkan 1 ml air nanas pada 1 ml
susu pada tiap tabung
Amati perubahannya menggunakan
senter dan catat waktu penggumpalannya
Dan untuk percobaan ketiga, 3 tabung
di isi air susu 3 ml dan 3 tabung lainnya di isi air nanas 1 ml, 2 ml dan 3 ml
Tuang setiap tabung reaksi yang
berisi air nanas ke dalam tabung berisi air susu
Amati perubahan
yang terjadi dengan senter, dan catat waktu terjadinya gumpalan
Gambar
1. Diagram Alir
HASIL DAN PEMBAHASAN
Adapun hasil yang diperoleh dari ketiga
percobaan enzim dari ekstrak buah nanas yaitu sebagai berikut :
Tabel 1. Hasil uji pengaruh suhu
terhadap kerja enzim
|
Tabung
|
Suhu
|
1/t
(kecepatan)
|
|
1
|
3oC
|
0,056
|
|
2
|
28°C
|
0,035
|
|
3
|
100°C
|
0,030
|

Dari data yang telah diperoleh, maka
dapat dibahas bahwa perubahan reaksi kimia atau terjadinya gumpalan saat
pencampuran dua larutan dengan tiga suhu yang berbeda, hal ini menunukkan bahwa
suhu merupakan salah satu faktor pengaruh terhadap kinerja enzim. Pada suhu
dingin memiliki waktu gumpalan yang lebih lama dibandingkan dengan suhu ruang
dan suhu panas.
Tabel
2. Hasil uji pengaruh kosentrasi substrat terhadap kerja enzim
|
Tabung
|
Kosentrasi
Substrat
|
1/t
(kecepatan)
|
|
1
|
1 ml
|
0,058
|
|
2
|
2 ml
|
0,04
|
|
3
|
3 ml
|
0,037
|

Pada data pengujian kedua dapat
dibahas, bahwa jumlah konsentrasi substrat juga merupakan salah satu faktor
pengaruh kinerja enzim. Substrat yang memiliki takaran yang lebih banyak yaitu
3 ml lebih cepat mengalami penggumpalan dibandingkan dengan jumlah substrat
yang lainnya yang lebih sedikit. Semakin sedikit substrat maka semakin lama
terjadi perubahan kimianya atau terjadi penggumpalannya.
Tabel
3. Uji pengaruh kosentrasi enzim terhadap kerja enzim
|
Tabung
|
Kosentrasi
Enzim
|
1/t
(kecepatan)
|
|
1
|
1 ml
|
0,071
|
|
2
|
2 ml
|
0,1
|
|
3
|
3 ml
|
0,09
|

Dan untuk pengujian ketiga yaitu konsentrasi enzim memiliki grafik yang berbeda dari grafik sebelumnya, semakin sedikit jumlah konsentrasi enzimnya maka semakin cepat juga mengalami penggumpalannya. Oleh karena itu, konsentrasi enzim juga merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam kinerja enzim.
KESIMPULAN DAN SARAN
Dari data yang diperoleh maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa para
praktikan telah berhasil melakukan isolasi dan pada aktivitas enzim banyak
mengalami perubahan, hal ini terjadi dikarenakan setiap enzim memerlukan suhu
dan pH (tingkat keasaman) optimum yang berbeda-beda dan enzim adalah protein,
yang dapat mengalami perubahan bentuk jika suhu dan keasaman berubah. Di luar
suhu atau pH yang sesuai, enzim tidak dapat bekerja secara optimal atau
strukturnya akan mengalami kerusakan. Begitu juga dengan faktor-faktor lainnya
harus diperhatikan karena sangat mempengaruhi kinerja enzim.
Praktikum yang dilakukan sudah sangat baik dan sesuai dengan
prosedur yang ditentukan, hanya saja saat pemberian materi terlalu cepat dan
kurang jelas sehingga harus memberikan materi dua kali karena belum langsung
dipahami oleh praktikan.
DAFTAR PUSTAKA
Amalia, A &
Nawfa, R. 2010. Amobilisasi Bromelin dengan Menggunakan Kitosan Sebagai
Matriks Pendukung. Skripsi diterbitkan. Surabaya: ITS.
Sebayang, F.
2006. Pengujian Stabilitas Enzim Bromelin yang Diisolasi dari Bonggol Nenas
serta Imobilisasi Menggunakan Kappa Karagenan. Jurnal Sains Kimia, 10 (1):
20-26.
Secor Jr, E.
R., Carson VI, W. F., Cloutier, M. M., Guernsey, L. A., Schramm, C. M., Wu, C.
A. & Thrall, R. S. 2005. Bromelain Exerts Anti-Inflammatory Effects in
An Ovalbumininduced Murine Model of Allergic Airway Disease. Cell Immunol.,
237 (1): 68-75.
Spahn, C. &
Minteer, S. D. 2008. Enzyme Immobilization in Biotechnology.
Recent Patents on Engineering, 2 (3): 195-200.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar