Sabtu, 13 Juni 2015

LAPORAN PERHITUNGAN BAKTERI DENGAN METODE HITUNGAN CAWAN



PERHITUNGAN BAKTERI DENGAN METODE HITUNGAN CAWAN

Riska Ayu Nuryahya
4443130741
Perikanan 4 A
4

JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2015
ABSTRAK
Pengukuran kuantitatif populasi mikroba dalam suatu sampel dilakukan untuk mengetahui kualitas bahan atau tujuan lain berdasarkan jumlah mikroba yang ada dalam suatu sampel tersebut. Ada berbagai macam cara untuk mengukur jumlah sel antara lain dengan hitungan mikroskopis langsung (direct microscopis count) dan hitungan tidak langsung (indirect count) dengan hitungan cawan, baik dengan metode penyebaran maupun metode penuangan. Praktikum yang dilakukan pada hari rabu, tanggal 20 Mei 2015 mulai pukul 13.00-15.00 WIB, bertempat di laboraturium teknologi pengolahan hasil perikanan (TPHP) Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa bertujuan agar praktikan dapat mempelajari cara melakukan pengenceran serial dan menentukan jumlah bakteri dalam suatu sampel dengan metode hitungan cawan. Berdasarkan hasil dari metode hitungan cawan pada penelitian di atas menggunakan suatu standar yang disebut dengan Standart Plate Counts (SPC). Standar tersebut adalah cawan yang dipilih dan dihitung adalah yang mengandung jumlah koloni antara 30-300, namun jumlah koloni yang tumbuh terlalu padat pada pengenceran (10-5) sehingga pengenceran untuk sampel ini terlalu sedikit, karena pada pengenceran (10-5) jumlah koloni yang hidup masih berjumlah lebih dari 300.
Kata Kunci : Hitungan cawan, Jumlah koloni, Pengenceran
ABSTRACT
Quantitative measurements of microbial populations in a sample taken to determine the quality of materials or other purposes based on the number of microbes present in the sample. There are various ways to measure the number of cells such as by direct microscopic count (direct microscopis count) and count indirectly (indirect count) with a cup count, either by the method of dissemination and the casting method. Lab work done on Wednesday, dated May 20, 2015 starting at 1 p.m. to 15:00 pm, at the laboratory fish processing technology (TPHP) Department of Fisheries, Faculty of Agriculture, University of Sultan Ageng Tirtayasa intended that the practitioner can learn how to perform serial dilutions and determine the amount of bacteria in a sample cup count method. Based on the results of the cup count method on the above study using a standard called the Standard Plate Counts (SPC). The standard is chosen and calculated the cup containing the number of colonies is between 30-300, but the number of colonies that grow too dense on dilution (10-5) so that the dilution of the sample is too little, because the dilution (10-5) the number of colonies that life is still number more than 300.
Keywords : Counts saucer, Dilution, Number of colonies,

PENDAHULUAN
Bakteri merupakan mikro uniseluler. Pada umumnya bakteri tidak mempunyai klorofil. Ada beberapa yang fotosintetik dan reproduksi aseksualnya secara pembelahan. Bakteri tersebar luas di alam, di dalam tanah, di atmosfer, di dalam endapan-endapan lumpur, di dalam lumpur laut, dalam air, pada sumber air panas, di daerah antartika, dalam tubuh manusia, hewan, dan tanaman. Jumlah bakteri tergantung pada keadaan sekitar. Misalnya, jumlah bakteri di dalam tanah tergantung jenis dan tingkat kesuburan tanah (Hidayat, et al., 2006).
Menurut Waluyo (2007), pengamatan bakteri dapat dilakukan secara individual, satu per satu, maupun secara kelompok dalam bentuk koloni. Bila bakteri yang ditumbuhkan di dalam medium yang tidak cair, maka akan terjadi suatu kelompok yang dinamakan koloni. Bentuk koloni berbeda-beda untuk setiap spesies, dan bentuk tersebut merupakan ciri khas bagi suatu spesies tertentu.
Pengukuran kuantitatif populasi mikroba dalam suatu sampel dilakukan untuk mengetahui kualitas bahan atau tujuan lain berdasarkan jumlah mikroba yang ada dalam suatu sampel tersebut. Ada berbagai macam cara untuk mengukur jumlah sel antara lain dengan hitungan mikroskopis langsung (direct microscopis count) dan hitungan tidak langsung (indirect count) dengan hitungan cawan, baik dengan metode penyebaran maupun metode penuangan.
            Pada perhitungan langsung, sampel ditaruh di suatu ruang hitung (hemasitometer) dan jumlah sel dapat ditentukan secara langsung dengan bantuan mikroskop. Keuntungan metode ini adalah pelaksanaannya cepat dan tidak memerlukan banyak peralatan, namun kelemahannya ialah tidak membedakan sel-sel yang hidup dari yang mati sehingga hasil yang diperoleh adalah jumlah total sel yang ada di dalam populasi. Kelemahan lain ialah sulitnya menghitung sel yang berukuran sangat kecil seperti bakteri karena ketebalan hemasitometer tidak memungkinkan digunakan lensa obyektif celup minyak. Dalam akuakultur, hemasitometer banyak digunakan untuk menghitung sel-sel fitoplankton seperti Chlorella atau Skeletonema.
            Untuk perhitungan tidak langsung dengan hitungan cawan didasarkan pada anggapan bahwa setiap sel yang dapat hidup akan berkembang menjadi satu koloni. Untuk memenuhi persyaratan statistik, cawan yang dipilih untuk perhitungan koloni adalah yang mengandung antara 30-300 koloni. Karena jumlah mikroorganisme dalam suatu sampel tidak diketahui sebelumnya, maka untuk memperoleh sekurang-kurangnya satu cawan yang mengandung koloni dalam jumlah yang memenuhi syarat tersebut harus dilakukan sederetan pengenceran dan pencawanan. Jumlah sel bakteri pada suatu sampel diketahui dengan menghitung jumlah koloni yang tumbuh pada media tersebut dikalikan dengan faktor pengencernya dengan satuan coloni forming unit (cfu/ml atau cfu/gram).
            Adapun dilakukannya praktikum kali ini yaitu agar mahasiswa dapat mempelajari cara melakukan pengenceran serial dan menentukan jumlah bakteri dalam suatu sampel dengan metode hitungan cawan.

METODOLOGI
Praktikum pada bahasan perhitungan bakteri dengan metode hitungan cawan dilakukan pada hari rabu, tanggal 20 Mei 2015 mulai pukul 13.00-15.00 WIB. Bertempat di laboraturium teknologi pengolahan hasil perikanan (TPHP) Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu terdiri dari bunsen (pembakar spirtus), cawan petri, batang penyebar, botol penyemprot, pipet ukur, tabung reaksi, rak tabung reaksi, alumunium foil dan alat tulis. Sedangkan untuk bahan menggunakan larutan fisiologis, air selokan, dan biakan bakteri dengan medium TSA dalam bentuk agar.
Hal pertama yang harus dilakukan dalam menjalankan praktikum yaitu semprotkan larutan alkohol pada tangan praktikan dan sekitar meja praktikum, ini bertujuan agar tempat percobaan tetap steril dan terhindar dari kontaminasi bakteri lainnya. Setelah alat dan bahan disiapkan, lakukan pengenceran serial sampel suspensi bakteri secara aseptik 1 ml lalu masukan kedalam tabung reaksi 9 ml pertama (10-1) dan homogenkan. Ambil sampel secara aseptik dengan pipet ukur 1 ml dari tabung pengencer pertama dan masukkan ke dalam tabung pengencer kedua (10-2) dan seterusnya untuk tabung-tabung pengencer selanjutnya. Kemudian masukan sampel tersebut ke dalam cawan petri yang berisi biakan bakteri pada media agar dengan menggunakan pipet ukur, sebarkan dengan batang penyebar. Tutup rapat cawan petri tersebut dengan menggunakan alumunium foil harus sangat dekat dengan bunsen yang menyala supaya tidak terjadi kontaminan, inkubasikan selama 24 jam pada suhu ruang, kemudian hitung jumlah koloni yang tumbuh (30-300) dan kalikan dengan faktor pengencernya.
Ambil 1 ml suspensi bakteri
Masukan pada tabung reaksi pertama (10-1)
Ambil 1 ml sampel dari tabung pertama ke tabung reaksi kedua (10-2)
Ulangi langkah tersebut sampai pada tabung-tabung reaksi selanjutnya
Masukan sampel ke dalam cawan petri dan sebarkan
Inkubasikan selama 24 jam
Amati, hitung jumlah koloni yang tumbuh (30-300) dan kalikan dengan faktor pengencernya

Gambar 1. Diagram Alir

HASIL DAN PEMBAHASAN
            Adapun hasil dari pengamatan dan perhitungan bakteri dengan metode hitungan cawan yaitu sebagai berikut :
Tabel 1. Perhitungan  Bakteri dengan Metode Hitungan Cawan

Jumlah bakteri
Bentuk bakteri
Koloni yang tumbuh
Gambar (sketsa)
Ciri-ciri
Cawan 1
430
Bulat

Berbentuk bulat, berwarna putih susu, mempunyai bintik-bintik kecil.
Cawan 2
455
Bulat

Berbentuk bulat, berwarna putih susu, mempunyai bintik-bintik kecil.


Umbonal








Bentuk-L








Datar




Datar lurus
            Berdasarkan hasil dari metode hitungan cawan pada penelitian di atas menggunakan suatu standar yang disebut dengan Standart Plate Counts (SPC). Standar tersebut adalah cawan yang dipilih dan dihitung adalah yang mengandung jumlah koloni antara 30-300, beberapa koloni yang bergabung menjadi satu merupakan satu kumpulan koloni yang besar yang jumlah koloninya diragukan dapat dihitung sebagai satu koloni, dan satu deretan rantai koloni yang terlihat sebagai suatu garis tebal dihitung sebagai satu koloni (Waluyo, 2007). Plate count agar (PCA) adalah mikrobiologi medium pertumbuhan umum digunakan untuk menilai atau memonitor "total" atau layak pertumbuhan bakteri dari sampel. PCA adalah bukan media selektif. Pada data tersebut, jumlah koloni yang tumbuh terlalu padat pada pengenceran (10-5) sehingga pengenceran untuk sampel ini terlalu sedikit, karena pada pengenceran (10-5) jumlah koloni yang hidup masih berjumlah lebih dari 300. Bakteri yang tumbuh memiliki 4 macam bentuk, seperti bakteri bentuk bulat, bentuk umbonal, bentuk L dan datar.
Tabel 2. Hasil Perhitungan Kalkulasi
No.
Keterangan
Jumlah Koloni
Jumlah Bakteri (cfu/ml)
1
Cawan 1
430
4,30 x 10-8 cfu/ml
2
Cawan 2
455
4,55 x 10-8 cfu/ml
Prinsip perhitungan koloni bakteri adalah semakin tinggi tingkat pengenceran semakin rendah jumlah koloni bakteri. Dengan kata lain tingkat pengenceran berbanding terbalik dengan jumlah koloni bakteri.

KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan data yang telah diperoleh untuk praktikum perhitungan bakteri dengan metode hitungan cawan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa mahasiswa dapat dengan mudah melakukan pengenceran serial melalui tahap-tahap yang telah diberikan oleh asisten saat praktikum dengan melakukan beberapa reaksi dan menentukan jumlah bakteri dalam suatu sampel dapat ditentukan dengan hitungan mikroskopis langsung (direct microscopis count) dan hitungan tidak langsung (indirect count) dengan hitungan cawan, baik dengan metode penyebaran maupun metode penuangan.
Untuk praktikum selanjutnya diharapkan asisten dapat memperbanyak alat dan bahan preparat yang akan digunakan, supaya semua praktikan dapat melakukan percobaan bersama kelompoknya dan prosedur kerja pada percobaan tersebut dapat dengan mudah dipahami.

DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, Nur. Masdiana C. Padaga, Sri Suhartini. 2006. Mikrobiologi Industri. Yogyakarta: Andi Offset.
Waluyo, Lud. 2007. Mikrobiologi Umum. Malang: UMM Press.
Waluyo, Lud. 2008. Teknik dan Metode Dasar Dalam Mikrobiologi. Malang: UMM Press.

1 komentar: