
Riska Ayu
Nuryahya
4443130741
Perikanan 4 A
4
JURUSAN
PERIKANAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
SULTAN AGENG TIRTAYASA
2015
ABSTRAK
Pengukuran
kuantitatif populasi mikroba dalam suatu sampel dilakukan untuk mengetahui
kualitas bahan atau tujuan lain berdasarkan jumlah mikroba yang ada dalam suatu
sampel tersebut. Ada berbagai macam cara untuk mengukur jumlah sel antara lain
dengan hitungan mikroskopis langsung (direct microscopis count) dan hitungan
tidak langsung (indirect count) dengan hitungan cawan, baik dengan metode
penyebaran maupun metode penuangan. Praktikum yang dilakukan pada hari rabu,
tanggal 20 Mei 2015 mulai pukul 13.00-15.00 WIB, bertempat di laboraturium
teknologi pengolahan hasil perikanan (TPHP) Jurusan Perikanan, Fakultas
Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa bertujuan agar praktikan dapat
mempelajari cara melakukan pengenceran serial dan menentukan jumlah bakteri
dalam suatu sampel dengan metode hitungan cawan. Berdasarkan hasil dari metode
hitungan cawan pada penelitian di atas menggunakan suatu standar yang disebut
dengan Standart Plate Counts (SPC). Standar tersebut adalah cawan yang dipilih
dan dihitung adalah yang mengandung jumlah koloni antara 30-300, namun jumlah
koloni yang tumbuh terlalu padat pada pengenceran (10-5) sehingga pengenceran
untuk sampel ini terlalu sedikit, karena pada pengenceran (10-5) jumlah koloni
yang hidup masih berjumlah lebih dari 300.
Kata Kunci : Hitungan
cawan, Jumlah koloni, Pengenceran
ABSTRACT
Quantitative
measurements of microbial populations in a sample taken to determine the
quality of materials or other purposes based on the number of microbes present
in the sample. There are various ways to measure the number of cells such as by
direct microscopic count (direct microscopis count) and count indirectly
(indirect count) with a cup count, either by the method of dissemination and
the casting method. Lab work done on Wednesday, dated May 20, 2015 starting at
1 p.m. to 15:00 pm, at the laboratory fish processing technology (TPHP)
Department of Fisheries, Faculty of Agriculture, University of Sultan Ageng
Tirtayasa intended that the practitioner can learn how to perform serial
dilutions and determine the amount of bacteria in a sample cup count method.
Based on the results of the cup count method on the above study using a
standard called the Standard Plate Counts (SPC). The standard is chosen and
calculated the cup containing the number of colonies is between 30-300, but the
number of colonies that grow too dense on dilution (10-5) so that the dilution
of the sample is too little, because the dilution (10-5) the number of colonies
that life is still number more than 300.
Keywords : Counts saucer, Dilution, Number
of colonies,
PENDAHULUAN
Bakteri merupakan mikro uniseluler.
Pada umumnya bakteri tidak mempunyai klorofil. Ada beberapa yang fotosintetik
dan reproduksi aseksualnya secara pembelahan. Bakteri tersebar luas di alam, di
dalam tanah, di atmosfer, di dalam endapan-endapan lumpur, di dalam lumpur
laut, dalam air, pada sumber air panas, di daerah antartika, dalam tubuh
manusia, hewan, dan tanaman. Jumlah bakteri tergantung pada keadaan sekitar.
Misalnya, jumlah bakteri di dalam tanah tergantung jenis dan tingkat kesuburan
tanah (Hidayat, et al., 2006).
Menurut Waluyo (2007), pengamatan
bakteri dapat dilakukan secara individual, satu per satu, maupun secara
kelompok dalam bentuk koloni. Bila bakteri yang ditumbuhkan di dalam medium
yang tidak cair, maka akan terjadi suatu kelompok yang dinamakan koloni. Bentuk
koloni berbeda-beda untuk setiap spesies, dan bentuk tersebut merupakan ciri
khas bagi suatu spesies tertentu.
Pengukuran kuantitatif populasi mikroba dalam suatu sampel
dilakukan untuk mengetahui kualitas bahan atau tujuan lain berdasarkan jumlah
mikroba yang ada dalam suatu sampel tersebut. Ada berbagai macam cara untuk
mengukur jumlah sel antara lain dengan hitungan mikroskopis langsung (direct
microscopis count) dan hitungan tidak langsung (indirect count)
dengan hitungan cawan, baik dengan metode penyebaran maupun metode penuangan.
Pada perhitungan langsung, sampel
ditaruh di suatu ruang hitung (hemasitometer) dan jumlah sel dapat
ditentukan secara langsung dengan bantuan mikroskop. Keuntungan metode ini
adalah pelaksanaannya cepat dan tidak memerlukan banyak peralatan, namun
kelemahannya ialah tidak membedakan sel-sel yang hidup dari yang mati sehingga
hasil yang diperoleh adalah jumlah total sel yang ada di dalam populasi.
Kelemahan lain ialah sulitnya menghitung sel yang berukuran sangat kecil
seperti bakteri karena ketebalan hemasitometer tidak memungkinkan digunakan
lensa obyektif celup minyak. Dalam akuakultur, hemasitometer banyak digunakan
untuk menghitung sel-sel fitoplankton seperti Chlorella atau Skeletonema.
Untuk perhitungan tidak langsung
dengan hitungan cawan didasarkan pada anggapan bahwa setiap sel yang dapat
hidup akan berkembang menjadi satu koloni. Untuk memenuhi persyaratan
statistik, cawan yang dipilih untuk perhitungan koloni adalah yang mengandung antara
30-300 koloni. Karena jumlah mikroorganisme dalam suatu sampel tidak diketahui
sebelumnya, maka untuk memperoleh sekurang-kurangnya satu cawan yang mengandung
koloni dalam jumlah yang memenuhi syarat tersebut harus dilakukan sederetan
pengenceran dan pencawanan. Jumlah sel bakteri pada suatu sampel diketahui
dengan menghitung jumlah koloni yang tumbuh pada media tersebut dikalikan
dengan faktor pengencernya dengan satuan coloni forming unit (cfu/ml
atau cfu/gram).
Adapun dilakukannya praktikum kali ini
yaitu agar mahasiswa dapat mempelajari cara melakukan pengenceran serial dan
menentukan jumlah bakteri dalam suatu sampel dengan metode hitungan cawan.
METODOLOGI
Praktikum pada bahasan perhitungan bakteri dengan metode hitungan
cawan dilakukan pada hari rabu, tanggal 20 Mei 2015 mulai pukul 13.00-15.00
WIB. Bertempat di laboraturium teknologi pengolahan hasil perikanan (TPHP)
Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu terdiri dari
bunsen (pembakar spirtus), cawan petri, batang penyebar, botol penyemprot,
pipet ukur, tabung reaksi, rak tabung reaksi, alumunium foil dan alat tulis.
Sedangkan untuk bahan menggunakan larutan fisiologis, air selokan, dan biakan
bakteri dengan medium TSA dalam bentuk agar.
Hal pertama yang harus dilakukan dalam menjalankan praktikum yaitu
semprotkan larutan alkohol pada tangan praktikan dan sekitar meja praktikum,
ini bertujuan agar tempat percobaan tetap steril dan terhindar dari kontaminasi
bakteri lainnya. Setelah alat dan bahan disiapkan, lakukan pengenceran serial
sampel suspensi bakteri secara aseptik 1 ml lalu masukan kedalam tabung reaksi 9
ml pertama (10-1) dan homogenkan. Ambil sampel secara aseptik dengan
pipet ukur 1 ml dari tabung pengencer pertama dan masukkan ke dalam tabung
pengencer kedua (10-2) dan seterusnya untuk tabung-tabung pengencer
selanjutnya. Kemudian masukan sampel tersebut ke dalam cawan petri yang berisi
biakan bakteri pada media agar dengan menggunakan pipet ukur, sebarkan dengan
batang penyebar. Tutup rapat cawan petri tersebut dengan menggunakan alumunium
foil harus sangat dekat dengan bunsen yang menyala supaya tidak terjadi
kontaminan, inkubasikan selama 24 jam pada suhu ruang, kemudian hitung jumlah
koloni yang tumbuh (30-300) dan kalikan dengan faktor pengencernya.
Ambil 1 ml suspensi bakteri
Masukan pada tabung reaksi pertama
(10-1)
Ambil 1 ml sampel dari tabung
pertama ke tabung reaksi kedua (10-2)
Ulangi langkah tersebut sampai pada
tabung-tabung reaksi selanjutnya
Masukan sampel ke dalam cawan petri
dan sebarkan
Inkubasikan selama 24 jam
Amati, hitung jumlah koloni yang
tumbuh (30-300) dan kalikan dengan faktor pengencernya
Gambar 1.
Diagram Alir
HASIL DAN PEMBAHASAN
Adapun hasil dari pengamatan dan
perhitungan bakteri dengan metode hitungan cawan yaitu sebagai berikut :
Tabel
1. Perhitungan Bakteri dengan Metode
Hitungan Cawan
|
|
Jumlah bakteri
|
Bentuk bakteri
|
Koloni yang tumbuh
|
|
|
Gambar (sketsa)
|
Ciri-ciri
|
|||
|
Cawan 1
|
430
|
Bulat
|
|
Berbentuk bulat,
berwarna putih susu, mempunyai bintik-bintik kecil.
|
|
Cawan 2
|
455
|
Bulat
|
|
Berbentuk bulat,
berwarna putih susu, mempunyai bintik-bintik kecil.
|
|
|
|
Umbonal
|
|
|
|
|
|
Bentuk-L
|
|
|
|
|
|
Datar
|
|
Datar lurus
|
Berdasarkan hasil dari metode
hitungan cawan pada penelitian di atas menggunakan suatu standar yang disebut
dengan Standart Plate Counts (SPC). Standar tersebut adalah cawan yang
dipilih dan dihitung adalah yang mengandung jumlah koloni antara 30-300,
beberapa koloni yang bergabung menjadi satu merupakan satu kumpulan koloni yang
besar yang jumlah koloninya diragukan dapat dihitung sebagai satu koloni, dan
satu deretan rantai koloni yang terlihat sebagai suatu garis tebal dihitung
sebagai satu koloni (Waluyo, 2007). Plate count agar (PCA) adalah
mikrobiologi medium pertumbuhan umum digunakan untuk menilai atau memonitor
"total" atau layak pertumbuhan bakteri dari sampel. PCA adalah bukan
media selektif. Pada data tersebut, jumlah koloni yang tumbuh terlalu padat
pada pengenceran (10-5) sehingga pengenceran untuk sampel ini
terlalu sedikit, karena pada pengenceran (10-5) jumlah koloni yang
hidup masih berjumlah lebih dari 300. Bakteri yang tumbuh memiliki 4 macam bentuk,
seperti bakteri bentuk bulat, bentuk umbonal, bentuk L dan datar.
Tabel
2. Hasil Perhitungan Kalkulasi
|
No.
|
Keterangan
|
Jumlah
Koloni
|
Jumlah
Bakteri (cfu/ml)
|
|
1
|
Cawan 1
|
430
|
4,30 x 10-8
cfu/ml
|
|
2
|
Cawan 2
|
455
|
4,55 x 10-8
cfu/ml
|
Prinsip
perhitungan koloni bakteri adalah semakin tinggi tingkat pengenceran semakin
rendah jumlah koloni bakteri. Dengan kata lain tingkat pengenceran berbanding
terbalik dengan jumlah koloni bakteri.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan data yang telah diperoleh untuk praktikum perhitungan
bakteri dengan metode hitungan cawan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
mahasiswa dapat dengan mudah melakukan pengenceran serial melalui tahap-tahap
yang telah diberikan oleh asisten saat praktikum dengan melakukan beberapa
reaksi dan menentukan jumlah bakteri dalam suatu sampel dapat ditentukan dengan
hitungan mikroskopis langsung (direct microscopis count) dan hitungan
tidak langsung (indirect count) dengan hitungan cawan, baik dengan metode
penyebaran maupun metode penuangan.
Untuk praktikum selanjutnya diharapkan asisten dapat memperbanyak
alat dan bahan preparat yang akan digunakan, supaya semua praktikan dapat
melakukan percobaan bersama kelompoknya dan prosedur kerja pada percobaan tersebut
dapat dengan mudah dipahami.
DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, Nur.
Masdiana C. Padaga, Sri Suhartini. 2006. Mikrobiologi Industri. Yogyakarta:
Andi Offset.
Waluyo, Lud. 2007. Mikrobiologi Umum. Malang: UMM Press.
Waluyo, Lud.
2008. Teknik dan Metode Dasar Dalam Mikrobiologi. Malang: UMM Press.
Thanks.
BalasHapus