Sabtu, 13 Juni 2015

LAPORAN UJI KUALITATIF KANDUNGAN FORMALIN PADA IKAN SEGAR DAN PRODUK PERIKANAN



UJI KUALITATIF KANDUNGAN FORMALIN PADA IKAN SEGAR DAN PRODUK PERIKANAN
Riska Ayu Nuryahya
4443130741

JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2015
Abstrak
                Formaldehid adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk. Formalin adalah larutan formaldehid 37% dalam air apabila diencerkan dinamai formalin dan harus dinyatakan kadarnya. Formalin sebenarnya bukan merupakan bahan tambahan makanan, bahkan merupakan zat yang tidak boleh ditambahkan pada makanan. Formalin sangat berbahaya jika dihirup, mengenai kulit dan tertelan. Jika dikonsumsi dalam jangka panjang maka formadehid dapat merusak hati, ginjal, limpa, pankreas dan lain-lain. Tapi efek dari bahan pangan berformalin baru bisa terasa beberapa tahun kemudian. Praktikum yang dilakukan pada tanggal 09 Apri 2015 di laboratorium TPHP, membahas tentang uji kualitatif kandungan formalin pada ikan segar dan produk olahan ikan dengan tujuan mahasiswa dapat mengetahui kandungan formalin secara kualitatif pada ikan segar dan produk olahan ikan dari pasar Rau. Yang memiliki hasil berbeda-beda, beberapa ada yang positif (+), sangat positif (+ +) dan sangat positif sekali (+ + +) mengandung bahan pengawet formalin dan berbahaya untuk dikonsumsi. Tetapi tidak semua sampel mengadung formalin, ada yang hanya tereduksi oleh larutan PK sehingga produk tersebut bisa dikatakan aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat.
Kata Kunci : Formalin, Ikan Segar, Produk Olahan Ikan, Uji Kualitatif

PENDAHULUAN
Ikan merupakan salah satu sumber protein hewani yang banyak dikonsumsi masyarakat, mudah didapat, dan harganya murah. Namun ikan cepat mengalami proses pembusukan karena memiliki kadar air yang cukup tinggi. Oleh sebab itu pengawetan ikan perlu diketahui oleh semua masyarakat. Tetapi sekarang ini banyak masyarakat yang menyalahgunakan bahan kimia untuk mengawetkan ikan dan juga produk olahannya, salah satunya seperti formalin.
Formaldehid yang lebih dikenal dengan nama formalin ini adalah salah satu zat tambahan makanan yang dilarang. Meskipun sebagian banyak orang sudah mengetahui terutama produsen bahwa zat ini berbahaya jika digunakan sebagai pengawet, namun penggunaannya bukannya menurun tetapi malah semakin meningkat dengan alasan harganya yang relatif murah dibanding pengawet yang tidak dilarang.
Formalin sebenarnya bukan merupakan bahan tambahan makanan, bahkan merupakan zat yang tidak boleh ditambahkan pada makanan. Memang orang yang mengkonsumsi bahan pangan seperti tahu, mie, bakso, ayam, ikan dan bahkan permen, yang berformalin dalam beberapa kali saja belum merasakan akibatnya.
Kini formalin sudah sangat umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Disektor industri sebenarnya formalin sangat banyak manfaatnya seperti untuk pembersih lantai, kapal, gudang-gudang, pakaian, pembasmi lalat dan berbagai serangga. Lemahnya perhatian pemerintah kita, karena selain digunakan dalam sektor industri, formalin juga disalahgunakan untuk keperluan lain seperti pengawetan makanan yang sangat tidak baik apabila dikonsumsi oleh tubuh manusia salah satunya pada pengawetan ikan segar dan produk olahannya. Formalin sangat berbahaya jika dihirup, mengenai kulit dan tertelan. Jika dikonsumsi dalam jangka panjang maka formadehid dapat merusak hati, ginjal, limpa, pancreas dan lain-lain. Tapi efek dari bahan pangan berformalin baru bisa terasa beberapa tahun kemudian.
Pada prakikum kali ini, dilakukan uji kualitatif kandungan formalin pada ikan segar dan produk olahan ikan dengan tujuan mahasiswa dapat mengetahui kandungan formalin secara kualitatif pada ikan segar dan produk olahan ikan dari pasar Rau. Untuk sampel yang digunakan menggunakan beberapa ikan segar seperti ikan kembung (Rastrelliger sp.), ikan bandeng (Chanos chanos) dan ikan bawal (Pampus argenteus). Sedangkan untuk produk olahan ikan menggunakan sampel cumi asin, bakso ikan dan otak-otak yang dijual di pasar Rau.


TINJAUAN PUSTAKA
Penggunaan pengawet pada bahan makanan sampai ini masih banyak dijumpai. Terutama penggunaan formalin sebagai pengawet bahan makanan seperti tahu, bakso, kerupuk, ikan kering, ikan laut yang pada umumnya dapat menyebabkan keracunan pada tubuh manusia. berdasarkan beberapa penelitian disimpulkan bahwa formalin tergolong sebagai karsinogen, yaitu senyawa yang dapat menyebabkan timbulnya kanker, oleh karena itu senyawa formalin tidak boleh digunakan dalam makanan maupun minuman (Elmatris,2007).
Formaldehid adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk. Formalin adalah larutan formaldehid 37% dalam air apabila diencerkan dinamai formalin dan harus dinyatakan kadarnya, misalnya formalin yang diencerkan dengan air yang sama volumenya, dinamai larutan formalin 50%, berarti kadar formaldehidnya 18,5% dengan demikian pemakaian istilah larutan formalin harus dinyatakan kadarnya, misalnya larutan formalin 50%, larutan formalin 25% dan sebagainya.
Identifikasi keberadaan formaldehida pada bahan pangan, termasuk ikan dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Jika pada uji kualitatif hasilnya positif maka akan dilanjutkan dengan pengujian secara kuantitatif memakai spektrofotometer. Pada uji kualitatif produk yang akan mengandung formalin akan ditunjukan dengan berubahnya warna air dan bening menjadi merah muda hingga ungu. Semakin ungu berarti kadar formalin makin tinggi (Hastuti, 2010).
Formalin dapat bereaksi cepat dengan lapisan lendir saluran pencernaan dan saluran pernafasan. Di dalam tubuh cepat teroksidasi membentuk asam format terutama di dalam organ hati dan sel darah merah. Pemakaian pada makanan dapat mengakibatkan keracunan pada tubuh manusia, yaitu rasa sakit perut yang akut disertai muntah-muntah, timbulnya depresi susunan syaraf atau kegagalan peredaran darah (Effendi, 2009).

METODOLOGI
Praktikum tentang pengujian kualitatif kandungan formalin pada ikan segar dan produk olahan ikan dilakukan di laboratorium TPHP Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Pada tanggal 08 April 2015 pukul 15.30-17.30 WIB.
Alat yang digunakan pada praktikum yaitu berupa tabung reaksi dan rak tabung reaksi, saringan, wadah atau piring, sendok, pisau, timbangan elektrik, pipet ukur, ruber bulp, kompor, talenan, panci dan alat tulis. Sedangkan untuk bahan menggunakan beberapa sampel ikan segar yaitu ikan kembung, ikan bandeng, ikan bawal merah, ikan tongkol, ikan payus, dan ikan patin. Dan untuk produk olahan ikan yaitu ada bakso ikan, cumi asin, otak-otak, pempek, dan teri nasi. Kemudian ada larutan PK, Antalin dan air panas.
Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan, sambil menunggu rebusan air mendidih, potong sampel yang akan diteliti kecil-kecil dan timbang dua bagian. Bagian pertama 10 gram sedangkan bagian pertama hanya 1 gram lalu haluskan sampai menjadi ampas dengan menggunakan campuran 20 ml air panas. Ambil ampas atau ekstrak sampel yang akan diteliti sebanyak 2,5 ml dengan pipet ukur ke dalam tabung reaksi. Pada tabung pertama yang telah berisi sampel dicampurkan dengan 5 ml larutan PK lalu homogenkan dan tunggu 10 menit sampai berubah warna, untuk tabung kedua diteteskan dengan cairan antilin sebanyak 2-3 tetes dan homogenkan sampai berubah warna, kemudian catat waktu dan hasil.
10 gram sampel + 20 ml air panas


 


Ambil ekstrak sebanyak 2,5 ml
Teteskan antilin (Al-a 2 tetes, Al-b 2 tetes)
Tunggu 10 menit dan amati perubahan warna
1 gram sampel + 5 ml PK
Tunggu perubahan warna
Catat waktu
Gambar 1. Diagram alir

HASIL DAN PEMBAHAN
            Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, didapatkan hasil sebagai berikut :
Tabel 1. Hasil data uji kualitatif kandungan formalin pada ikan segar
No.
Ikan segar
Kandungan Formalin
Antilin
PK
1.
Ikan kembung
+
Positif
2.
Ikan Bandeng
+
Positif
3.
Ikan Bawal Merah
+++
Positif
4.
Ikan Tongkol
+
+
5.
Ikan Payus
+++
+
6.
Ikan Patin
+
+

Tabel 2. Hasil data uji kualitatif kandungan formalin pada produk olahan ikan
No.
Produk Perikanan
Kandungan Formalin
Antilin
PK
1.
Otak-otak
-
Positif
2.
Cumi Asin
++
Positif
3.
Bakso Ikan
-
Positif
4.
Teri Nasi
++++
+
5.
Pempek
_
+
6.
Bakso Ikan
_
+
Dari data yang telah diperoleh, dapat dibahas bahwa uji kualitatif kandungan formalin pada ikan kembung, ikan bandeng, ikan tongkol dan ikan patin memiliki hasil yang positif (+) mengandung bahan pengawet formalin. Sedangkan untuk ikan bawal merah dan ikan payus memiliki hasil yang sangat positif (+ +) mengandung bahan pengawet formalin.
Kemudian untuk uji kualitatif pada produk olahan ikan didapatkan hasil yang berbeda dengan uji kualitatif pada ikan segar. Pada produk bakso ikan, pempek dan otak-otak didapatkan hasil yang positif (+) pada campuran larutan PK dan negatif (-) pada campuran tetesan antilin, hal ini dikarenakan bukan mengandung bahan formalin melainkan pada saat penghomogenan ekstrak dengan larutan PK, kedua mekanisme cairan tersebut bersatu sehingga warna dari ekstrak produk olahan ikan tersebut tereduksi oleh warna larutan PK yang mengakibatkan menjadi positif dan berubah warna. Sedangkan untuk produk cumi asin memiliki hasil yang sangat positif (+ +) mengandung bahan pengawet formalin, dan produk teri nasi didapatkan hasil yang sangat positif sekali (+ + +) mengandung bahan pengawet formalin.

KESIMPULAN DAN SARAN
            Dari hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa, hasil pengujian secara kualitatif kandungan formalin pada ikan segar dan produk olahan ikan ada beberapa yang positif (+), sangat positif (+ +) dan sangat positif sekali (+ + +) mengandung bahan pengawet formalin dan berbahaya untuk dikonsumsi. Tetapi tidak semua sampel mengadung formalin, ada yang hanya tereduksi oleh larutan PK sehingga produk tersebut bisa dikatakan aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat.
            Praktikum yang dilakukan sudah sangat baik dan sesuai dengan prosedur yang ditentukan, hanya saja saat pemberian materi terlalu cepat dan kurang jelas sehingga harus memberikan materi dua kali karena belum langsung dipahami oleh praktikan.

DAFTAR PUSTAKA
Afrianto. E dan E. Liviawati. 1989. Pengawetan dan Pengolahan Ikan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Poedjiadi, Anna dan F. M. Titin Supriyanti.(2005). Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: Universitas Indonesia-Press
Rohman, A. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Penerbit Pustaka Pelajar. Yogyakarta
Suhartini S dan N Hidayat. 2005. Olahan Ikan Segar. Surabaya: Penerbit Trubus Agrisarana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar