Sabtu, 13 Juni 2015

LAPORAN PENGARUH FITOFARMAKA TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI



PENGARUH FITOFARMAKA TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI

Riska Ayu Nuryahya
4443130741
Perikanan 4 A
4

JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2015
ABSTRAK
Penggunaan fitofarmaka atau tumbuh-tumbuhan alami sebagai pencegahan atau pengobatan alternatif ternyata sudah banyak digunakan sebelumnya. Bahan alami ini selain memiliki efek yang baik juga memiliki sifat ramah lingkungan. Banyak sekali berbagai tanaman obat yang biasa digunakan sebagai pengganti antibiotik salah satunya adalah daun sirih (Piper betle). Praktikum yang dilakukan pada hari rabu, tanggal 13 Mei 2015 mulai pukul 13.00-15.00 WIB, bertempat di laboraturium teknologi pengolahan hasil perikanan (TPHP) Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa bertujuan agar praktikan dapat mengamati pengaruh berbagai bahan antimikroba terhadap viabilitas bakteri. Dengan menggunakan larutan fisiologis dan berbagai tanaman-tanaman obat alami sebagai pengganti antibiotik. Larutan ekstrak daun sirih berhasil membentuk zona bening yang lebih panjang dibandingkan dengan tanaman lainnya dan memiliki data yang sangat efektif sebagai pengganti dari antibiotik dalam pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit, karena tanaman sirih mempunyai kandungan kimia yang penting untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam daun sirih mengandung senyawa fitokimia yakni alkoloid, saponin, tanin dan flavonoid.
Kata Kunci : Antibiotik, Daun sirih, Tanaman fitofarmaka
ABSTRACT
Fitofarmaka or use natural herbs as a preventive or alternative medicine was already used before. The natural ingredients in addition to having a good effect also has environmentally friendly nature. Lots of various medicinal plants commonly used as a substitute for antibiotics one of which is the betel leaf (Piper betle). Lab work done on Wednesday, dated May 13, 2015 starting at 1 p.m. to 15:00 pm, at the laboratory fish processing technology (TPHP) Department of Fisheries, Faculty of Agriculture, University of Sultan Ageng Tirtayasa intended that the practitioner can observe the effects of various antimicrobial agents against bacterial viability. By using a physiological solution and a wide range of natural medicinal plants as a substitute for antibiotics. Betel leaf extract solution successfully establish a clear zone longer than the other plants and has a highly effective data in lieu of antibiotics in the prevention and treatment of disease, because the betel plant has chemical constituents that are essential to cure various diseases. In betel leaves contain phytochemical compounds alkoloid, saponins, tannins and flavonoids.
Keywords : Antibiotics, Betel leaves, Plants fitofarmaka

PENDAHULUAN
            Kegiatan akuakultur dalam praktek banyak mengalami kendala-kendala, salah satunya adalah kendala penyebab kegagalan budidaya ikan yaitu melalui penyakit. Berbagai usaha telah dilakukan untuk mengatasi masalah penyakit tersebut. Penanganannya mulai dari menciptakan lingkungan yang optimal, karantina, vaksinasi, disinfeksi wabah hingga menggunakan antibiotik. Akan tetapi jika menggunakan antibiotik ini mempunyai efek yang buruk terhadap kelangsungan hidup organisme akuakultur yaitu terjadi resistensi pada organisme tersebut, serta menyebabkan pencemaran lingkungan.
            Untuk itu perlu adanya penanggulangan penyakit dengan bahan pengganti alternatif yang alami yaitu dengan menggunakan tanaman obat atau biasa disebut dengan fitofarmaka. Penggunaan fitofarmaka atau tumbuh-tumbuhan sebagai pencegahan atau pengobatan alternatif ternyata sudah banyak digunakan sebelumnya. Bahan alami ini selain memiliki efek yang baik juga memiliki sifat ramah lingkungan. Banyak berbagai tanaman obat yang biasa digunakan sebagai pengganti antibiotik, contohnya yaitu bawang putih (Allium sativum), mahkota dewa (Phaleria macrocarpa), daun sirih (Piper betle), paci-paci (Leucas levendulaefolia), jambu biji (Psidium guajava), mengkudu (Morinda citrifolia), dan meniran (Phyllantus niruri). Dari ketujuh tanaman obat tersebut belum dapat diketahui mana yang paling efektif sebagai pengganti antibiotik dalam pencegahan serta pengobatan penyakit, untuk itu perlu diadakan penelitian untuk mengetahuinya.
            Adapun dilakukannya praktikum kali ini yaitu agar mahasiswa dapat memahami pengaruh berbagai bahan antimikroba terhadap viabilitas bakteri.

METODOLOGI
Praktikum dengan pembahasan pengaruh fitofarmaka terhadap pertumbuhan bakteri dilakukan pada hari rabu, tanggal 13 Mei 2015 mulai pukul 13.00-15.00 WIB. Bertempat di laboraturium teknologi pengolahan hasil perikanan (TPHP) Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu terdiri dari bunsen (pembakar spirtus), cawan petri, spidol, batang penyebar, botol penyemprot, pipet ukur, pinset, kertas saring steril, alumunium foil dan alat tulis. Sedangkan untuk bahan menggunakan larutan fisiologis, larutan ekstrak kunyit, larutan ekstrak kulit manggis, larutan ekstrak daun sirih, larutan ekstrak bawang putih, larutan ekstrak bawang merah, larutan ekstrak jahe, air budidaya dan biakan bakteri dengan medium TSA dalam bentuk agar.
Hal pertama yang harus dilakukan dalam menjalankan praktikum yaitu semprotkan larutan alkohol pada tangan praktikan dan sekitar meja praktikum, ini bertujuan agar tempat percobaan tetap steril dan terhindar dari kontaminasi bakteri lainnya. Bagi media agar menjadi 4 kuadran dengan menggambarkan kuadran di bawah cawan petri. Tumbuk dan haluskan daun sirih kemudian ambil ekstraknya. Setelah alat dan bahan disiapkan, ambil 0,1 ml suspensi bakteri, teteskan pada media TSA dan kemudian ratakan dengan menggunakan batang penyebar. Nyalakan bunsen, bakar pinset yang akan digunakan, ambil kertas saring dengan pinset satu per satu. Celupkan kertas saring 1 ke dalam larutan fisiologis dan letakkan di tengah-tengan bagian kuadran pada media agar, celupkan kertas saring 2 ke dalam larutan ekstrak daun sirih dan letakkan pada bagian kuadran I, ulangi kegiatan yang sama sampai pada kuadran ke IV untuk jenis larutan yang sama. Setelah itu bungkus rapat cawan petri menggunakan alumunium foil dan inkubasikan selama 24 jam.
Prosedur kerja dalam praktikum pengaruh fitofarmaka terhadap pertumbuhan bakteri, sebagai berikut :
Ambil 0,1 suspensi bakteri
Teteskan pada media agar, sebarkan dengan batang penyebar
Celupkan kertas steril 1 pada larutan fiologis
Letakkan pada bagian tengah media agar
Celupkan kertas steril 2 pada larutan ekstrak daun sirih
Letakkan pada bagian kuadran I media agar
Ulangi langkah tersebut sampai pada kuadran IV untuk larutan yang sama
Inkubasikan selama 24 jam
Amati dan ukur zona bening yang timbul

Gambar 1. Diagram Alir

HASIL DAN PEMBAHASAN
            Adapun hasil dari pengamatan pada pengaruh fitofarmaka terhadap pertumbuhan bakteri berdasarkan larutan ekstrak dari masing-masing kelompok, yaitu sebagai berikut :
Tabel 1. Hasil Pengaruh Fitofarmaka Terhadap Pertumbuhan Bakteri
No.
Kelompok
Bahan Fitofarmaka
Larutan Fisiologis (Cm)
Kwadran (Cm)

1
2
3
4
1
1
Bawang Putih
-
0,6
0,7
0,9
0,6
2
2
Bawang Merah
0,8
0,7
0,7
0,7
0,8
3
3
Kunyit
0,7
0,7
0,7
0,6
0,6
4
4
Daun Sirih
1,8
1,4
2,0
1,3
2,0
5
5
Jahe
0,6
0,7
0,7
0,8
0,6
6
6
Kulit Manggis
0,6
0,9
1,7
1,9
0,5
           
Berdasarkan hasil dari masing-masing kelompok tersebut dapat diketahui bahwa larutan ekstrak fitofarmaka merupakan tumbuhan alami yang berkhasiat untuk pengobatan penyakit. Beberapa tanaman obat yang dapat dikatakan sebagai fitofarmaka adalah tanaman yang mengandung senyawa bersifat bakterisidal (pembunuh bakteri), dan bakteristatik (penghambat pertumbuhan bakteri). Banyak keuntungan dari penggunaan fitofarmaka diantaranya yaitu fitofarmaka menjadi bahan alami pengganti antibiotik untuk pengendali penyakit yang disebabkan bakteri, fitofarmaka merupakan bahan ramah lingkungan, mudah hancur, dan tidak menimbulkan residu pada ikan dan manusia. Bahan fitofarmaka juga mudah diperoleh dan tersedia cukup banyak dan tanaman fitofarmaka harganya ekonomis dan sangat murah.
Pada kelompok 4 menggunakan bahan baku tanaman fitofarmaka daun sirih (Piper betle). Daun sirih ini termasuk dalam tanaman obat fitofarmaka, dalam pengujianpun larutan ekstrak daun sirih berhasil membentuk zona bening yang lebih panjang dibandingkan dengan kelompok lainnya dan memiliki data yang sangat efektif sebagai pengganti dari antibiotik dalam pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit, karena tanaman sirih mempunyai kandungan kimia yang penting untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam daun sirih terkandung senyawa fitokimia yakni alkoloid, saponin, tanin dan flavonoid. Kandungan kimia lainnya yang terdapat di daun sirih merah adalah minyak atsiri, hidroksikavicol, kavicol, kavibetol, allylprokatekol, karvakrol, eugenol, p-cymene, cineole, caryofelen, kadimen estragol, ter-penena, dan fenil propada. Karena banyaknya kandungan zat atau senyawa kimia bermanfaat inilah, daun sirih merah  memiliki manfaat yang sangat luas sebagai bahan obat. Karvakrol bersifat desinfektan, anti jamur, sehingga bisa digunakan untuk obat antiseptik pada bau mulut dan keputihan pada wanita. Eugenol dapat digunakan untuk mengurangi rasa sakit, sedangkan tanin dapat digunakan untuk mengobati sakit perut.

KESIMPULAN DAN SARAN
            Berdasarkan data yang telah diperoleh untuk praktikum pengaruh fitofarmaka terhadap pertumbuhan bakteri, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa tanaman fitofarmaka merupakan tanaman alami yang sangat berpengaruh terhadap pengobatan penyakit dan sebagai pengganti antibiotik. Beberapa tanaman obat yang dapat dikatakan sebagai fitofarmaka adalah tanaman yang mengandung senyawa bakterisidal. Yang merupakan tanaman fitofarmaka yaitu seperti bawang putih (Allium sativum), bawang merah, mahkota dewa (Phaleria macrocarpa), daun sirih (Piper betle), paci-paci (Leucas levendulaefolia), jambu biji (Psidium guajava), mengkudu (Morinda citrifolia), jahe, kulit manggis, dan meniran (Phyllantus niruri) tetapi berdasarkan uji coba tersebut yang paling efektif sebagai pengganti antibiotik adalah tanaman daun sirih. Hal tersebut dikarenakan tanaman sirih mempunyai kandungan kimia yang penting untuk menyembuhkan berbagai penyakit, senyawa yang terkandung yakni alkoloid, saponin, tanin dan flavonoid.
            Materi yang diberikan sudah sangat jelas dan praktikum telah berjalan dengan lancar sesuai prosedur yang ditentukan, namun masih ada beberapa yang harus dikoreksi seperti alat-alat praktikum seharusnya diperbanyak dan untuk praktikan yang ribut, asleb dapat memberikan hukuman atau memberikan tugas supaya praktikum dapat berjalan dengan tenang. Dan untuk pemberitahuan preparat sebaiknya tidak mendadak.

DAFTAR PUSTAKA
Adisoemarto, S. 1984. Mikrobiologi Dasar. Jakarta: Gelora Aksara Pratama           Erlangga.
Ditjen Bina Produksi Hortikultura. 2004. Produksi, Luas Panen dan Produktivitas Buah-buahan, Sayuran, Tanaman Hias, dan Tanaman Obat Tahun 2003. Deptan. RI. Jakarta.
Marta Novia, Gia. 2009. Pengaruh Bahan Antimikroba Terhadap Viabilitas
          Bakteri. Bogor: Institut Pertanian Bogor
Novita Sari, Dian. 2011. Pengaruh Bahan Antimikroba Terhadap Pertumbuhan
          Bakteri. Bogor: Institut Pertanian Bogor

Tidak ada komentar:

Posting Komentar