Sabtu, 13 Juni 2015

LAPORAN PEMBUATAN MEDIA SELEKSI PROBIOTIK AMILOLITIK, LIPOLITIK DAN PROTEOLITIK



PEMBUATAN MEDIA SELEKSI PROBIOTIK AMILOLITIK, LIPOLITIK DAN PROTEOLITIK
                                                          
Riska Ayu Nuryahya
4443130741
Perikanan 4 A
4

JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2015
ABSTRAK
Didalam laboratorium mikrobiologi, kultur media sangat penting untuk isolasi, pengujian sifat-sifat phisis dan biokhemis bakteria serta untuk diagnosa suatu penyakit. Untuk pembuatan media ini menggunakan seleksi probiotik dengan media Na (Nutrient Agar), probiotik dapat didefinisikan dalam beberapa pengertian tergantung pada pemahaman mekanismenya dalam memberikan pengaruh bagi kesehatan dan kehidupan organisme. Probiotik merupakan mikroba tambahan yang memberikan pengaruh menguntungkan bagi inang melalui modifikasi komunitas mikroba atau assosiasi dengan inang, menjamin perbaikan penggunaan pakan atau perbaikan nilai nutrisinya, memperbaiki respon inang terhadap penyakit atau memperbaiki kualitas lingkungan ambangnya. Praktikum ini dilaksanakan pada hari rabu tanggal 27 Mei 2015 mulai pukul 13.00-15.00 WIB. Bertempat di laboraturium teknologi pengolahan hasil perikanan (TPHP) Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dengan tujuan mahasiswa dapat memperoleh isobat kandidat bakteri probiotik. Dari beberapa tahapan yang dilakukan untuk membuat media agar telah mendapatkan hasil sebuah media agar dengan seleksi probiotik lipolitik, karena bahan baku tambahan yang digunakan yaitu berupa minyak zaitun. Sebuah media agar yang kenyal di dalam cawan petri yang telah didinginkan, media tersebut adalah media Na (Nutrient Agar).
Kata kunci : Mikroba, Media agar, Probiotik
ABSTRACT
In the microbiology laboratory, the culture media is very important for the isolation, testing of the properties and biochemical phisis bacteria as well as to diagnose an illness. To manufacture these media using a selection of probiotics with Na media (Nutrient Agar), probiotics can be defined in some sense depends on understanding the mechanism in giving effect to the health and life of the organism. Probiotics are microbial additional beneficial effect for the host via the modification of microbial communities or associations with their hosts, guaranteeing repair the use of feed or improvement of nutritional value, improves host response to disease or improve environmental quality threshold. This lab held on Wednesday, May 27, 2015 date beginning at 1:00 p.m. to 3:00 p.m. GMT. Housed in laboratory fish processing technology (TPHP) Department of Fisheries, Faculty of Agriculture, University of Sultan Ageng Tirtayasa with the aim of a student can obtain isobat candidate probiotic bacteria. Of the several steps being taken to create a media that has been getting the media that with the selection of a probiotic lipolytic, as additional feedstock used in the form of olive oil. A chewy agar medium in a petri dish that has been cooled, the media is the media Na (Nutrient Agar).
Keywords : Microbial, Media agar, Probiotics

PENDAHULUAN
            Mikroorganisme dapat berkembang biak dengan alami atau dengan bantuan manusia, mikroorganisme yang dikembangkan oleh manusia diantaranya melalui substrat yang disebut media. Media adalah suatu substansi yang terdiri dari campuran zat-zat makanan (nutrisi) yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembang biakan jasad renik (mikroorganisme). Media dapat berbentuk padat, cair dan semi padat (semi solid).
Didalam laboratorium mikrobiologi, kultur media sangat penting untuk isolasi, pengujian sifat-sifat phisis dan biokhemis bakteria serta untuk diagnosa suatu penyakit. Zat makanan yang dibutuhkan bakteri pada umumnya sangat bervariasi, dapat berbentuk senyawa-senyawa organik sederhana atau senyawa-senyawa organik komplek (majemuk). Untuk melakukan hal ini, haruslah dimengerti jenis-jenis nutrien yang diisyaratkan oleh bakteri dan juga macam lingkungan fisik yang menyediakan kondisi optimum bagi pertumbuhannya.
Untuk pembuatan media ini menggunakan seleksi probiotik dengan medium Na (Nutrient Agar), probiotik dapat didefinisikan dalam beberapa pengertian tergantung pada pemahaman mekanismenya dalam memberikan pengaruh bagi kesehatan dan kehidupan organisme. Istilah probiotik pertama kali dicetuskan untuk mendeskripsikan senyawa yang dihasilkan mikroorganisme yang dapat menstimulir pertumbuhan mikroorganisme lain. Selanjutnya definisi probiotik berkembang menjadi organisme dan senyawa yang dapat menghasilkan keseimbangan mikroflora usus.
Beberapa definisi tentang probiotik diungkapkan oleh beberapa peneliti antara lain, Fuller (1987) diacu dalam Irianto (2003) mendefinisikan probiotik sebagai makanan tambahan (suplemen) berupa sel mikroba hidup yang memiliki pengaruh menguntungkan bagi hewan inang yang mengkonsumsinya melalui penyeimbangan flora mikroba di dalam intestinumnya.
Oleh karena itu, Verschuere et al. (2000) mengusulkan definisi probiotik sebagai mikroba tambahan yang memberikan pengaruh menguntungkan bagi inang melalui modifikasi komunitas mikroba atau assosiasi dengan inang, menjamin perbaikan penggunaan pakan atau perbaikan nilai nutrisinya, memperbaiki respon inang terhadap penyakit atau memperbaiki kualitas lingkungan ambangnya.
Adapun tujuan dari praktikum tentang pembuatan media seleksi probiotik amilolitik, lipolitik dan proteolitik adalah diharapkan mahasiswa dapat memperoleh isobat kandidat bakteri probiotik.

METODOLOGI
Praktikum dengan pembuatan media seleksi probiotik amilolitik, lipolitik dan proteolitik dilaksanakan pada hari rabu tanggal 27 Mei 2015 mulai pukul 13.00-15.00 WIB. Bertempat di laboraturium teknologi pengolahan hasil perikanan (TPHP) Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Alat-alat yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu cawan petri, timbangan elektrik, erlenmeyer, hot plate, bunsen, alumunium foil, botol penyemprot. Sedangkan untuk bahan yang digunakan yaitu medium Na (Nutrient Agar) sebanyak 3 gram, minyak zaitun sebanyak 2 gram, tepung tapioka sebanyak 2 gram, susu bubuk sebanyak 2 gram dan 100 ml aquades.
Sebelum membuat media bakteri, pastikan semua peralatan sudah steril dengan penyemprotan alkohol dan dikerjakan secara aseptik. Aseptik adalah dimana keadaan bebas dari jasad renik yang bersifat phatogen, keadaaan ini dicapai dengan menggunakan cara-cara tertentu, alat-alat yang disterilisasikan melalui proses pemanasan. Phatogen adalah parasit yang mampu menimbulkan penyakit pada inangnya (Adisoermarto, dkk. 1990:15). Timbang bahan Na sebanyak 3 gram, masukan kedalam Erlenmeyer, kemudian campurkan bahan Na dengan minyak zaitun sebanyak 2 gram dan encerkan dengan 100 ml aquades lalu homogenkan dengan menggunakan hot plate. Saat buih pada media tersebut sudah hilang, tutup erlenmeyer dengan dengan rapat menggunakan alumunium foil, diamkan sampai dingin dan didinginkan.
Timbang bahan Na sebanyak 3 gram
Simpan dalam Erlenmeyer
Tambahkan 2 gram minyak zaitun
Encerkan dengan 100 ml aquades
Homogenkan dengan menggunakan hot plate
Dinginkan
Masukan ke dalam cawan petri
Media siap menjadi agar

Gambar 1. Diagram Alir

HASIL DAN PEMBAHASAN
            Dari beberapa tahapan yang dilakukan untuk membuat media agar telah mendapatkan hasil sebuah media agar dengan seleksi probiotik lipolitik, karena bahan baku tambahan yang digunakan yaitu berupa minyak zaitun. Sebuah media agar yang kenyal di dalam cawan petri yang telah didinginkan, media tersebut adalah media Na (Nutrient Agar). Untuk menghindari adanya bahan-bahan yang dapat mempengaruhi kelarutan (solubilitas) zat yang digunakan, merubah warna media jika kena panas, meracuni (bakterisidal) atau dapat menghambat pertumbuhan bakteri dalam pembuatannya digunakan air suling (aquadest) sebagai pelarutnya.
Sedangkan untuk wadah atau tempat melarutkan, jika jumlahnya sedikit dipakai alat-alat gelas seperti erlenmeyer atau gelas piala, jika pembuatannya dengan jumlah banyak dipakai ember yang terbuat dari stainless. Wadah dari tembaga atau seng tidak digunakan untuk menghindari terjadinya kelarutan pada kedua metal tersebut, karena keduanya diketahui mudah teroksidasi dan korosif. Jumlah sekecil apapun dari kedua metal ini jika terlarut dalam media akan bersifat sebagai bakterisidal (Collin dan Patricia, 1987).
Pengukuran derajat keasaman atau eksponen hidrogen (pH) media sangat penting. Jika terlalu asam atau basa, maka pertumbuhan bakteri akan dihambat. Hampir semua bakteri tumbuh pada media pH 7.00 – 7.50, dan hanya beberapa saja yang tumbuh pada media yang pH nya dibawah 7.0, misalnya Mycobakterium, yaitu bakteri tahan asam yang tumbuh pada media pH 6.8. Pengukuran pH hendaknya dilakukan pada suhu kamar, untuk menghindari penyimpangan atau kesalahan.
Pengisian media yang sudah diukur pH nya kedalam tabung atau botol sebaiknya jangan terlalu penuh untuk menghindari tumpah atau pecah jika disterilkan. Untuk bentuk padat yang mengandung 2% agar-agar atau bentuk semi solid yang mengandung 0,2% - 0,5% agar-agar, sebelum diisikan harus dipanaskan dahulu supaya agarnya larut dan homogen menggunakan hot plate. Sedangkan untuk pembuatan media agar dimasukan kedalam erlenmeyer yang kemudian ditutup dengan alumunium foil.
Setiap media yang dibuat, sebelum digunakan harus dikontrol dahulu sterilitasnya yaitu dengan menyimpan didalam inkubator pada suhu 37oC selama 24 jam. Media yang terkontaminasi tidak boleh dipakai dan harus dibuang.

KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan data yang telah diperoleh, dapat ditarik kesimpulan bahwa media agar yaitu Na (Nutrient Agar) yang merupakan salah satu media kultur umum dipergunakan untuk isobat dan penumbuhan bermacam mikroorganisme yang bersifat aerobik probiotik, cara membuatnya yang tidak sulit sehingga praktikan mampu mengikuti sesuai dengan prosedur.
Praktikum yang dilakukan sudah cukup baik dan sesuai dengan prosedur yang ditentukan hanya saja praktikan masih kurang tertib dalam melakukan penimbangan bahan, dan diharapkan asisten dapat memperbanyak alat dan bahan preparat yang akan digunakan.

DAFTAR PUSTAKA
Adisoermarto, Soenartono, dkk. 1990. Kamus Biologi. Depdikbud. Jakarta.
Collin, C.H and Patricia. M. Lyne. 1987. Microbiological Method. Fifth Edition. Butterworths, London
Fuller, R. 1992. History and Development of Probiotics. London: Chapman and Hall. Hlm 1-8
Irianto A. 2003. Probiotik Akuakultur. Gajah Mada University Press. Yogyakarta
Verschuere L, Rombaut G, Sorgeloos P, Verstraete W. 2000. Probiotic Bacteria as Biological Control in Aquaculture. Microbiol Mol Biol Rev 64:655-671.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar