Sabtu, 13 Juni 2015

LAPORAN PENGARUH BAHAN ANTIMIKROBA TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI



PENGARUH BAHAN ANTIMIKROBA TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI

Riska Ayu Nuryahya
4443130741
Perikanan 4 A
4

JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2015
ABSTRAK
Antibakteri atau antimikroba adalah bahan yang dapat membunuh atau menghambat aktivitas mikroorganisme dengan bermacam-macam cara. Senyawa antimikroba terdiri atas beberapa kelompok berdasarkan mekanisme daya kerjanya atau tujuan penggunaannya. Bahan antimikroba dapat secara fisik atau kimia dan berdasarkan peruntukannya dapat berupa desinfektan, antiseptic, sterilizer, sanitizer dan sebagainya (Lutfi, 2004). Berbagai substrat tersebut meunjukkan efek antimikrobialnya dalam berbagai cara dan terhadap mikroorganisme. Sifat ini digunakan untuk mengendalikan populasi  bakteri atau untuk tujuan desinfeksi suatu alat.  Praktikum yang dilakukan pada hari rabu, tanggal 06 Mei 2015 mulai pukul 13.00-15.00 WIB, bertempat di laboraturium teknologi pengolahan hasil perikanan (TPHP) Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa bertujuan            agar praktikan dapat mengamati pengaruh berbagai bahan antimikroba terhadap viabilitas bakteri. Dengan menggunakan larutan fisiologis dan berbagai macam bahan antimikroba seperti formalin dan alkohol. Hasil dalam pengamatan didapatkan ukuran diameter zona bening yang dihasilkan oleh larutan ini berbeda pada masing-masing kelompok, hal ini karena kemampuan zat antibakteri akan menghasilkan zona bening yang berbeda untuk setiap bahannya.

Kata Kunci : Antimikroba, Bakteri, Larutan, Zona bening
ABSTRACT
Antibacterial or antimicrobial is a substance that can kill or inhibit the activity of microorganisms in a variety of ways. Antimicrobial compounds made up of several groups based on the mechanisms of power work or intended use. Antimicrobial materials can be physically or chemically and by its designation can be a disinfectant, antiseptic, sterilizer, sanitizers, and so on (Lutfi, 2004). The substrate is conveniently indicates various antimikrobialnya effects in a variety of ways and on microorganisms. These properties are used to control bacterial populations, or for the purpose of disinfection of an instrument. Lab work done on Wednesday, on May 6, 2015 starting at 1 p.m. to 15:00 pm, at the laboratory fish processing technology (TPHP) Department of Fisheries, Faculty of Agriculture, University of Sultan Ageng Tirtayasa intended that the practitioner can observe the effects of various antimicrobial agents against bacterial viability , By using a physiological solution and a wide range of antimicrobial agents such as formalin and alcohol. Results obtained in the observations diameter clear zone produced by this solution is different for each group, it is because the ability of antibacterial substances will produce a clear zone that is different for each material.
Keywords : Antimicrobial, Bacteria, Solution, Zone clear

PENDAHULUAN
Antibakteri atau antimikroba adalah bahan yang dapat membunuh atau menghambat aktivitas mikroorganisme dengan bermacam-macam cara. Senyawa antimikroba terdiri atas beberapa kelompok berdasarkan mekanisme daya kerjanya atau tujuan penggunaannya. Bahan antimikroba dapat secara fisik atau kimia dan berdasarkan peruntukannya dapat berupa desinfektan, antiseptic, sterilizer, sanitizer dan sebagainya (Lutfi, 2004). 
Beberapa bahan kimia seperti senyawa fenol, alkohol, formalin dan lain-lain diketahui dapat menghambat atau mematikan mikroorganisme. Berbagai substrat tersebut meunjukkan efek antimikrobialnya dalam berbagai cara dan terhadap mikroorganisme. Sifat ini digunakan untuk mengendalikan populasi  bakteri atau untuk tujuan desinfeksi suatu alat.
            Mikroba memiliki karakteristik dan ciri yang berbeda-beda di dalam persyaratan pertumbuhannya. Bakteri juga memiliki kebutuhan dasar yang sama meliputi air, karbon, energi, mineral, dan faktor tumbuh. Bakteri merupakan organisme yang bersifat prokariotik dengan inti tidak berselaput. Dalam lingkungan, bakteri ini berperan sangat penting dalam menguraikan zat-zat organik.
Bakteri dalam aktivitasnya dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu faktor abiotik meliputi kimia dan fisika serta faktor biotik yang berhubungan dengan makhluk hidup lain. Faktor fisika mencakup suhu, salinitas, tekanan osmotik, pengeringan, dan lain-lain. Sedangkan faktor kimia mencakup pH, DO, amonia, bahkan antimikroba juga berpengaruh terhadap kelangsungan hidup bakteri.
Antibiotik merupakan produk metabolik yang dihasilkan suatu mikroorganisme tertentu dalam jumlah sangat kecil bersifat merusak dan menghambat mikroorganisme lain. Dengan kata lain, antibiotik merupakan zat kimia yang dihasilkan oleh suatu mikroorganisme yang dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain.
Bahan antimikroba sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup bakteri. Akan tetapi tidak semua bahan antimikroba berpengaruh terlalu kuat terhadap bakteri. Hal ini dipengaruhi oleh jenis bakteri dan bahan antimikroba itu sendiri. Bahan antimikroba dapat menghambat perkembangbiakan bakteri (bakteriostatik), bahkan ada yang sanggup membunuhnya (bakteriosida) dengan memiliki cara kerja sebagai berikut, yaitu merusak membran, mendenaturasi protein, menghambat pembentukan dinding sel, dan mengganggu sintesis protein.
Adapun dilakukannya praktikum kali ini yaitu agar mahasiswa dapat mengamati pengaruh berbagai bahan antimikroba terhadap viabilitas bakteri. Dengan menggunakan larutan fisiologis dan berbagai macam bahan antimikroba seperti formalin dan alkohol.

METODOLOGI
Praktikum dengan pembahasan pengaruh bahan antimikroba terhadap pertumbuhan bakteri dilakukan pada hari rabu, tanggal 06 Mei 2015 mulai pukul 13.00-15.00 WIB. Bertempat di laboraturium teknologi pengolahan hasil perikanan (TPHP) Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu terdiri dari bunsen (pembakar spirtus), cawan petri, spidol, batang penyebar, botol penyemprot, pipet ukur, pinset, kertas saring steril, alumunium foil dan alat tulis. Sedangkan untuk bahan menggunakan larutan fisiologis, larutan alkohol 96% dan 70%, larutan formalin 90% dan 10%, air budidaya dan biakan bakteri dengan medium TSA dalam bentuk agar.
Hal pertama yang harus dilakukan dalam menjalankan praktikum yaitu semprotkan larutan alkohol pada tangan praktikan dan sekitar meja praktikum, ini bertujuan agar tempat percobaan tetap steril dan terhindar dari kontaminasi bakteri lainnya. Bagi media agar menjadi 4 kuadran dengan menggambarkan kuadran di bawah cawan petri. Setelah alat dan bahan disiapkan, ambil 0,1 ml suspensi bakteri, teteskan pada media TSA dan kemudian ratakan dengan menggunakan batang penyebar. Nyalakan bunsen, bakar pinset yang akan digunakan, ambil kertas saring dengan pinset satu per satu. Celupkan kertas saring 1 ke dalam larutan fisiologis dan letakkan di tengah-tengan bagian kuadran pada media agar, celupkan kertas saring 2 ke dalam larutan antibiotik dan letakkan pada bagian kuadran I, ulangi kegiatan yang sama sampai pada kuadran ke IV untuk jenis larutan antibiotik yang lainnya. Setelah itu bungkus rapat cawan petri menggunakan alumunium foil dan inkubasikan selama 24 jam.
Prosedur kerja dalam praktikum pengaruh bahan antimikroba terhadap pertumbuhan bakteri, sebagai berikut :
Ambil 0,1 suspensi bakteri
Teteskan pada media agar, sebarkan dengan batang penyebar
Celupkan kertas steril 1 pada larutan fiologis
Letakkan pada bagian tengah media agar
Celupkan kertas steril 2 pada larutan antibiotik
Letakkan pada bagian kuadran I media agar
Ulangi langkah tersebut sampai pada kuadran IV untuk larutan antibiotik yang berbeda
Inkubasikan selama 24 jam
Amati dan ukur zona bening yang timbul

Gambar 1. Diagram Alir

HASIL DAN PEMBAHASAN
            Adapun hasil dari pengamatan pada pengaruh bahan antimikroba terhadap pertumbuhan bakteri berdasarkan masing-masing kelompok, yaitu sebagai berikut :
Tabel 1. Hasil Pengaruh Bahan Antimikroba Terhadap Pertumbuhan Bakteri
No.
Kelompok
Nama Bahan
Diameter Zona Bening (cm)
1
I
Larfis/Fisiologis
0,8


Alkohol 96%
0,7


Alkohol 70%
1


Formalin 90%
0,7


Formalin 10%
0,7
2
II
Larfis/Fisiologis
0,7


Alkohol 96%
0,6


Alkohol 70%
0,6


Formalin 90%
0,7


Formalin 10%
0,6
3
III
Larfis/Fisiologis
0,8


Alkohol 96%
1,2


Alkohol 70%
1,1


Formalin 90%
0,6


Formalin 10%
0,7
4
IV
Larfis/Fisiologis
0,7


Alkohol 96%
0,7


Alkohol 70%
0,6


Formalin 90%
0,6


Formalin 10%
0,7
5
V
Larfis/Fisiologis
0,8


Alkohol 96%
0,7


Alkohol 70%
0,7


Formalin 90%
0


Formalin 10%
0,6
6
VI
Larfis/Fisiologis
0,6


Alkohol 96%
0


Alkohol 70%
0


Formalin 90%
0,5


Formalin 10%
0





             






















Berdasarkan hasil dari masing-masing kelompok tersebut dapat diketahui bahwa bahan antimikroba yang diparaktikumkan mampu menghasilkan zona bening disekitarnya, bahan tersebut adalah larutan alkohol 96% dan 70% serta larutan formalin 90% dan 10%. Hal ini dikarenakan bahan atau larutan tersebut mengandung zat antibakteri atau sebagai antibiotik yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri disekitarnya. Sistem kerja suatu senyawa antibiotik bisa terjadi dengan beberapa macam cara yaitu dengan menghambat pembentukan dinding sel, mendenaturasi protein, menghambat sintesis protein, merusak fungsi membran plasma.
Dalam pengamatan didapatkan bahwa diameter zona bening yang dihasilkan oleh larutan ini berbeda-beda. Perbedaan ini juga dapat dilihat pada pengujian terhadap jenis bakteri yang berbeda. Hal ini karena kemampuan zat antibakteri akan berbeda untuk setiap bahannya. Menurut (Pelczar, 2006) senyawa antibakteri memiliki kemampuan yang berbeda untuk menghambat pertumbuhan bakteri tergantung jenis senyawa dan jenis bakterinya.
Menurut Firmansyah (2005) pada perlakuan kering maupun basah dengan konsentrasi alkohol 60 – 70% paling efektif untuk menghambat pertumbuhan bakteri. Sedangkan untuk bahan formalin sebagai senyawa kimia yang sering digunakan sebagai bahan pengawet. Bahan pengawet zat ini mampu menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk, oleh karena itulah larutan ini mampu mengahambat pertumbuhan bakteri. Namun untuk larutan fisiologis (Lunggana, 2002) merupakan garam NaCl yang mempunyai keseimbangan kepekatan larutan dengan kepekatan cairan tubuh (isotonik). Pemberian larutan fisiologis pada mikroba tidak akan membentuk zona bening karena bahan ini tidak berfungsi sebagai antimikroba sehingga, jika larutan fisiologis membentuk zona bening berdiameter paling besar dibanding dengan zat antibakteri artinya telah terjadi kesalahan yang dilakukan oleh praktikan ataupun lainnya yang dapat menyebabkan hal ini terjadi.

KESIMPULAN DAN SARAN
            Berdasarkan data yang telah diperoleh untuk praktikum pengaruh bahan antimikroba terhadap pertumbuhan bakteri, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa bahan kimia seperti larutan alkohol, larutan formalin dan senyawa kimia lainnya merupakan zat antibakteri yang dapat mengganggu pertumbuhan dan metabolisme melalui penghambatan pertumbuhan bakteri. Cara kerja dari zat antibakteri tersebut diantaranya dengan mendenaturasi protein, merusak membran, mengganggu sistematis protein dan menghambat pembentukan dinding sel. Senyawa antibakteri mengandung zat kimia khusus yang dapat berfungsi untuk membunuh bakteri, sehingga bahan atau larutan tersebut sangat efektif dan berpengaruh untuk menghambat pertumbuhannya bakteri. Namun tidak untuk larutan fisiologis atau garam NaCl karena larutan ini mempunyai keseimbangan kepekatan larutan dengan kepekatan cairan tubuh (isotonik) sehingga tidak berfungsi sebagai zat antimikroba.
            Untuk praktikum kali ini sudah sangat efektif dalam pemberian materi dan praktikum berjalan sesuai dengan prosedur yang telah diterapkan, namun diharapkan untuk alat praktikum dapat diperbanyak sehingga para praktikan tidak berebut yang dapat menyebabkan keributan selama praktikum berlangsung.

DAFTAR PUSTAKA
Fithratyrrah. 2005. Tinjauan Pangan Mi Basah yang Mengandung Formalin Setelah Mengalami Tahap Persiapan atau Pemasakan. Skripsi. Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Lunggana, I. 2002. Minuman Isontonik Pengganti Energi. Jakarta: Republika         Online.
Lutfi Ahmad. 2004. Kimia Lingkungan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Pelczar, M. J. dan E. C. S. Chan. 2006. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI      Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar