PENGARUH BAHAN
ANTIMIKROBA TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI

Riska Ayu
Nuryahya
4443130741
Perikanan 4 A
4
JURUSAN
PERIKANAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
SULTAN AGENG TIRTAYASA
2015
ABSTRAK
Antibakteri
atau antimikroba adalah bahan yang dapat membunuh atau menghambat aktivitas
mikroorganisme dengan bermacam-macam cara. Senyawa antimikroba terdiri atas
beberapa kelompok berdasarkan mekanisme daya kerjanya atau tujuan
penggunaannya. Bahan antimikroba dapat secara fisik atau kimia dan berdasarkan
peruntukannya dapat berupa desinfektan, antiseptic, sterilizer, sanitizer dan
sebagainya (Lutfi, 2004). Berbagai
substrat tersebut meunjukkan efek antimikrobialnya dalam berbagai cara dan
terhadap mikroorganisme. Sifat ini digunakan untuk mengendalikan populasi bakteri atau untuk tujuan desinfeksi suatu
alat. Praktikum yang dilakukan pada hari
rabu, tanggal 06 Mei 2015 mulai pukul 13.00-15.00 WIB, bertempat di
laboraturium teknologi pengolahan hasil perikanan (TPHP) Jurusan Perikanan,
Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa bertujuan agar praktikan dapat mengamati
pengaruh berbagai bahan antimikroba terhadap viabilitas bakteri. Dengan
menggunakan larutan fisiologis dan berbagai macam bahan antimikroba seperti
formalin dan alkohol. Hasil dalam pengamatan didapatkan ukuran diameter zona
bening yang dihasilkan oleh larutan ini berbeda pada masing-masing kelompok, hal
ini karena kemampuan zat antibakteri akan menghasilkan zona bening yang berbeda
untuk setiap bahannya.
Kata Kunci : Antimikroba, Bakteri, Larutan, Zona bening
ABSTRACT
Antibacterial
or antimicrobial is a substance that can kill or inhibit the activity of
microorganisms in a variety of ways. Antimicrobial compounds made up of several
groups based on the mechanisms of power work or intended use. Antimicrobial
materials can be physically or chemically and by its designation can be a
disinfectant, antiseptic, sterilizer, sanitizers, and so on (Lutfi, 2004). The
substrate is conveniently indicates various antimikrobialnya effects in a
variety of ways and on microorganisms. These properties are used to control
bacterial populations, or for the purpose of disinfection of an instrument. Lab
work done on Wednesday, on May 6, 2015 starting at 1 p.m. to 15:00 pm, at the
laboratory fish processing technology (TPHP) Department of Fisheries, Faculty
of Agriculture, University of Sultan Ageng Tirtayasa intended that the
practitioner can observe the effects of various antimicrobial agents against
bacterial viability , By using a physiological solution and a wide range of
antimicrobial agents such as formalin and alcohol. Results obtained in the
observations diameter clear zone produced by this solution is different for
each group, it is because the ability of antibacterial substances will produce
a clear zone that is different for each material.
Keywords : Antimicrobial, Bacteria,
Solution, Zone clear
PENDAHULUAN
Antibakteri atau antimikroba adalah bahan yang dapat membunuh atau
menghambat aktivitas mikroorganisme dengan bermacam-macam cara. Senyawa
antimikroba terdiri atas beberapa kelompok berdasarkan mekanisme daya kerjanya
atau tujuan penggunaannya. Bahan antimikroba dapat secara fisik atau kimia dan
berdasarkan peruntukannya dapat berupa desinfektan, antiseptic, sterilizer,
sanitizer dan sebagainya (Lutfi, 2004).
Beberapa bahan kimia seperti senyawa fenol, alkohol, formalin dan
lain-lain diketahui dapat menghambat atau mematikan mikroorganisme. Berbagai
substrat tersebut meunjukkan efek antimikrobialnya dalam berbagai cara dan
terhadap mikroorganisme. Sifat ini digunakan untuk mengendalikan populasi bakteri atau untuk tujuan desinfeksi suatu
alat.
Mikroba memiliki karakteristik dan
ciri yang berbeda-beda di dalam persyaratan pertumbuhannya. Bakteri juga
memiliki kebutuhan dasar yang sama meliputi air, karbon, energi, mineral, dan
faktor tumbuh. Bakteri merupakan organisme yang bersifat prokariotik dengan
inti tidak berselaput. Dalam lingkungan, bakteri ini berperan sangat penting
dalam menguraikan zat-zat organik.
Bakteri dalam aktivitasnya dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan
yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu faktor abiotik meliputi kimia dan fisika
serta faktor biotik yang berhubungan dengan makhluk hidup lain. Faktor fisika
mencakup suhu, salinitas, tekanan osmotik, pengeringan, dan lain-lain.
Sedangkan faktor kimia mencakup pH, DO, amonia, bahkan antimikroba juga
berpengaruh terhadap kelangsungan hidup bakteri.
Antibiotik merupakan produk metabolik yang dihasilkan suatu
mikroorganisme tertentu dalam jumlah sangat kecil bersifat merusak dan
menghambat mikroorganisme lain. Dengan kata lain, antibiotik merupakan zat
kimia yang dihasilkan oleh suatu mikroorganisme yang dapat menghambat
pertumbuhan mikroorganisme lain.
Bahan antimikroba sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup
bakteri. Akan tetapi tidak semua bahan antimikroba berpengaruh terlalu kuat
terhadap bakteri. Hal ini dipengaruhi oleh jenis bakteri dan bahan antimikroba
itu sendiri. Bahan antimikroba dapat menghambat perkembangbiakan bakteri
(bakteriostatik), bahkan ada yang sanggup membunuhnya (bakteriosida) dengan
memiliki cara kerja sebagai berikut, yaitu merusak membran, mendenaturasi
protein, menghambat pembentukan dinding sel, dan mengganggu sintesis protein.
Adapun dilakukannya praktikum kali ini yaitu agar mahasiswa dapat
mengamati pengaruh berbagai bahan antimikroba terhadap viabilitas bakteri.
Dengan menggunakan larutan fisiologis dan berbagai macam bahan antimikroba
seperti formalin dan alkohol.
METODOLOGI
Praktikum dengan pembahasan pengaruh bahan antimikroba terhadap
pertumbuhan bakteri dilakukan pada hari rabu, tanggal 06 Mei 2015 mulai pukul
13.00-15.00 WIB. Bertempat di laboraturium teknologi pengolahan hasil perikanan
(TPHP) Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng
Tirtayasa.
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu terdiri dari
bunsen (pembakar spirtus), cawan petri, spidol, batang penyebar, botol
penyemprot, pipet ukur, pinset, kertas saring steril, alumunium foil dan alat
tulis. Sedangkan untuk bahan menggunakan larutan fisiologis, larutan alkohol
96% dan 70%, larutan formalin 90% dan 10%, air budidaya dan biakan bakteri
dengan medium TSA dalam bentuk agar.
Hal pertama yang harus dilakukan dalam menjalankan praktikum yaitu
semprotkan larutan alkohol pada tangan praktikan dan sekitar meja praktikum,
ini bertujuan agar tempat percobaan tetap steril dan terhindar dari kontaminasi
bakteri lainnya. Bagi media agar menjadi 4 kuadran dengan menggambarkan kuadran
di bawah cawan petri. Setelah alat dan bahan disiapkan, ambil 0,1 ml suspensi bakteri,
teteskan pada media TSA dan kemudian ratakan dengan menggunakan batang
penyebar. Nyalakan bunsen, bakar pinset yang akan digunakan, ambil kertas
saring dengan pinset satu per satu. Celupkan kertas saring 1 ke dalam larutan
fisiologis dan letakkan di tengah-tengan bagian kuadran pada media agar,
celupkan kertas saring 2 ke dalam larutan antibiotik dan letakkan pada bagian
kuadran I, ulangi kegiatan yang sama sampai pada kuadran ke IV untuk jenis
larutan antibiotik yang lainnya. Setelah itu bungkus rapat cawan petri
menggunakan alumunium foil dan inkubasikan selama 24 jam.
Prosedur kerja dalam praktikum pengaruh bahan antimikroba terhadap
pertumbuhan bakteri, sebagai berikut :
Ambil 0,1 suspensi bakteri
Teteskan pada media agar, sebarkan
dengan batang penyebar
Celupkan kertas steril 1 pada
larutan fiologis
Letakkan pada bagian tengah media
agar
Celupkan kertas steril 2 pada
larutan antibiotik
Letakkan pada bagian kuadran I media
agar
Ulangi langkah tersebut sampai pada
kuadran IV untuk larutan antibiotik yang berbeda
Inkubasikan selama 24 jam
Amati dan ukur zona bening yang
timbul
Gambar 1.
Diagram Alir
HASIL DAN PEMBAHASAN
Adapun hasil dari pengamatan pada
pengaruh bahan antimikroba terhadap pertumbuhan bakteri berdasarkan
masing-masing kelompok, yaitu sebagai berikut :
Tabel 1. Hasil Pengaruh Bahan Antimikroba Terhadap Pertumbuhan Bakteri
|
No.
|
Kelompok
|
Nama Bahan
|
Diameter Zona Bening (cm)
|
|
|
1
|
I
|
Larfis/Fisiologis
|
0,8
|
|
|
|
|
Alkohol 96%
|
0,7
|
|
|
|
|
Alkohol 70%
|
1
|
|
|
|
|
Formalin 90%
|
0,7
|
|
|
|
|
Formalin 10%
|
0,7
|
|
|
2
|
II
|
Larfis/Fisiologis
|
0,7
|
|
|
|
|
Alkohol 96%
|
0,6
|
|
|
|
|
Alkohol 70%
|
0,6
|
|
|
|
|
Formalin 90%
|
0,7
|
|
|
|
|
Formalin 10%
|
0,6
|
|
|
3
|
III
|
Larfis/Fisiologis
|
0,8
|
|
|
|
|
Alkohol 96%
|
1,2
|
|
|
|
|
Alkohol 70%
|
1,1
|
|
|
|
|
Formalin 90%
|
0,6
|
|
|
|
|
Formalin 10%
|
0,7
|
|
|
4
|
IV
|
Larfis/Fisiologis
|
0,7
|
|
|
|
|
Alkohol 96%
|
0,7
|
|
|
|
|
Alkohol 70%
|
0,6
|
|
|
|
|
Formalin 90%
|
0,6
|
|
|
|
|
Formalin 10%
|
0,7
|
|
|
5
|
V
|
Larfis/Fisiologis
|
0,8
|
|
|
|
|
Alkohol 96%
|
0,7
|
|
|
|
|
Alkohol 70%
|
0,7
|
|
|
|
|
Formalin 90%
|
0
|
|
|
|
|
Formalin 10%
|
0,6
|
|
|
6
|
VI
|
Larfis/Fisiologis
|
0,6
|
|
|
|
|
Alkohol 96%
|
0
|
|
|
|
|
Alkohol 70%
|
0
|
|
|
|
|
Formalin 90%
|
0,5
|
|
|
|
|
Formalin 10%
|
0
|
|
Berdasarkan
hasil dari masing-masing kelompok tersebut dapat diketahui bahwa bahan
antimikroba yang diparaktikumkan mampu menghasilkan zona bening disekitarnya,
bahan tersebut adalah larutan alkohol 96% dan 70% serta larutan formalin 90%
dan 10%. Hal ini dikarenakan bahan atau larutan tersebut mengandung zat
antibakteri atau sebagai antibiotik yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri
disekitarnya. Sistem kerja suatu senyawa antibiotik bisa terjadi dengan
beberapa macam cara yaitu dengan menghambat pembentukan dinding sel,
mendenaturasi protein, menghambat sintesis protein, merusak fungsi membran
plasma.
Dalam pengamatan didapatkan bahwa diameter zona bening yang
dihasilkan oleh larutan ini berbeda-beda. Perbedaan ini juga dapat dilihat pada
pengujian terhadap jenis bakteri yang berbeda. Hal ini karena kemampuan zat
antibakteri akan berbeda untuk setiap bahannya. Menurut (Pelczar, 2006) senyawa
antibakteri memiliki kemampuan yang berbeda untuk menghambat pertumbuhan
bakteri tergantung jenis senyawa dan jenis bakterinya.
Menurut Firmansyah (2005) pada perlakuan kering maupun basah dengan
konsentrasi alkohol 60 – 70% paling efektif untuk menghambat pertumbuhan
bakteri. Sedangkan untuk bahan formalin sebagai senyawa kimia yang sering
digunakan sebagai bahan pengawet. Bahan pengawet zat ini mampu menghambat
pertumbuhan bakteri pembusuk, oleh karena itulah larutan ini mampu mengahambat
pertumbuhan bakteri. Namun untuk larutan fisiologis (Lunggana, 2002) merupakan
garam NaCl yang mempunyai keseimbangan kepekatan larutan dengan kepekatan
cairan tubuh (isotonik). Pemberian larutan fisiologis pada mikroba tidak akan
membentuk zona bening karena bahan ini tidak berfungsi sebagai antimikroba sehingga,
jika larutan fisiologis membentuk zona bening berdiameter paling besar
dibanding dengan zat antibakteri artinya telah terjadi kesalahan yang dilakukan
oleh praktikan ataupun lainnya yang dapat menyebabkan hal ini terjadi.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan data yang telah
diperoleh untuk praktikum pengaruh bahan antimikroba terhadap pertumbuhan
bakteri, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa bahan kimia seperti larutan
alkohol, larutan formalin dan senyawa kimia lainnya merupakan zat antibakteri yang
dapat mengganggu pertumbuhan dan metabolisme melalui penghambatan pertumbuhan
bakteri. Cara kerja dari zat antibakteri tersebut diantaranya dengan
mendenaturasi protein, merusak membran, mengganggu sistematis protein dan
menghambat pembentukan dinding sel. Senyawa antibakteri mengandung zat kimia
khusus yang dapat berfungsi untuk membunuh bakteri, sehingga bahan atau larutan
tersebut sangat efektif dan berpengaruh untuk menghambat pertumbuhannya
bakteri. Namun tidak untuk larutan fisiologis atau garam NaCl karena larutan
ini mempunyai keseimbangan kepekatan larutan dengan kepekatan cairan tubuh
(isotonik) sehingga tidak berfungsi sebagai zat antimikroba.
Untuk praktikum kali ini sudah
sangat efektif dalam pemberian materi dan praktikum berjalan sesuai dengan
prosedur yang telah diterapkan, namun diharapkan untuk alat praktikum dapat
diperbanyak sehingga para praktikan tidak berebut yang dapat menyebabkan
keributan selama praktikum berlangsung.
DAFTAR PUSTAKA
Fithratyrrah.
2005. Tinjauan Pangan Mi Basah yang Mengandung Formalin Setelah Mengalami
Tahap Persiapan atau Pemasakan. Skripsi. Jurusan Gizi Masyarakat dan
Sumberdaya Keluarga. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Lunggana, I.
2002. Minuman Isontonik Pengganti Energi. Jakarta: Republika Online.
Lutfi Ahmad. 2004. Kimia
Lingkungan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Pelczar,
M. J. dan E. C. S. Chan. 2006. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta:
UI Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar